Tentang Mengenang

June 21st, 2007 by kennisa

Adalah kenangan. Sesuatu yang kita simpan. Ia bisa manis, sedih, lucu, ataupun getir. Apapun, ketika label kenangan sudah melekat, ia hanya akan membuat kita tersenyum kecil. Hingga manusia yang duduk di sebelah kita di bangku bis akan menganggap kita sinting karenanya.

Dialah Sikat Gigi. Begitu sahabat saya memanggilnya. Sampai sekarang pun sahabat saya tidak pernah tahu nama sebenarnya. Cukup Sikat Gigi. Salah satu bagian penting dalam buku kenangan saya. Yang membuat emosi meluap ketika tiba-tiba ingat, pun ketika ia sudah bernama kenangan. Karena dia, saya pernah mencecap satu rasa yang mewah, anggun, sakral sekaligus lugu. Bersama dia, saya pernah tertawa, menangis, cemberut, juga rindu. Untuk dia, saya bisa membuat sama banyak hal yang sebenarnya berbeda.

Tahun-tahun berlalu. Dan dia tak lagi ada. Tapi saya masih hidup. Berteman dengan banyak orang, menikmati suara hujan, menyesap secangkir kopi tiap pagi, olahraga, berdebat dengan orang lain, menonton film, berpelukan dengan teman ketika membutuhkan dukungan, mengisi teka teki silang dan tetap bersyukur ketika cuaca suram dan udara lembab. Banyak hal yang saya lakukan ketika bersama dia. Dan lebih banyak hal lagi yang saya lakukan ketika dia sudah tak ada.

Lagu, lukisan, artikel di koran, baju, kartu pos, secarik kertas bertuliskan email, poster, pensil usang, semua menguarkan keberadaannya di masa lalu.

Segala sesuatunya telah selesai. Hampir semua hal berubah. Melankoli nan anggun itupun tak lagi sama. Dia hanya sebuah kenangan.

nasionalisme dalam sebuah pilihan

June 20th, 2007 by kennisa

Kemarin sebelum pulang kerja, iseng-iseng saya menanyakan pada beberapa rekan kerja apa yang tiba-tiba melintas di kepala.

"lebih milih mana, antara Hillary Clinton dan Barack Obama"

Ada satu yang dengan mantap menjawab "Barack Obama". Alasannya? "Ya, biar kondisi Indonesia nanti jadi berubah".

Tak bisa diingkari, si ganteng afro-amerika ini memang punya pertalian emosi yang kuat dengan Indonesia. Dibesarkan di Indonesia, pernah punya ayah tiri orang Indonesia yang otomatis punya saudara tiri orang Indonesia juga. Melihat ekspresi teman saya ketika menjawab pertanyaan bodoh yang saya ajukan, saya melihat ada rasa cinta yang ingin diungkapkan (hayah, bahasanya!) terhadap negeri ini, meskipun negeri ini…ah, tidak usah saya sebutkan, Anda juga pasti tahu apa yang saya maksud, bukan? Jadi ingat, pertengahan tahun 90an dulu ada slogan yang terkenal banget. ACI, singkatan dari Aku Cinta Indonesia. Juga ada lagu yang dinyanyikan Cindy Cenora, yang barangkali bertujuan untuk membentuk nasionalisme anak-anak. Aku cinta rupiah, biar dollar dimana-mana. Nasionalisme, atau malah konsumerisme, hehehe…

Jam makan siang, waktu ngobrol di telpon dengan si hani, saya menanyakan pertanyaan yang sama. Hm, ternyata si hani milih Hillary Clinton, karena bebe ini memang selalu suka wanita smart nan mandiri. Nggak heran kalau dia jadi suka juga sama saya :)

Tapi begitu saya tanya soal pemilihan Gubernur Jakarta, kok dia bilang "ah, sekarang udah males". Apatis sekali, apakah ini berarti si hani tidak nasionalis?

Surprise!!!

June 18th, 2007 by kennisa

Kemarin, waktu pulang kampung, ada kejutan menyenangkan begitu saya sampai rumah. Meski di perjalanan saya mabuk darat (entah makan apa sampai mual-mual nggak karuan), plus niat nyumpal mulut penumpang di depan saya pake sepatu. Ups! habis ini bapak cerewet banget. Secara laki-laki kok mulutnya berlebihan, mana suaranya bikin masuk angin telinga. Gara-gara dia berdiri, dan saya duduk, kok si bapak jadi hobi banget nyindir-nyindir saya. "Enak kalau duduk bisa tidur". Yaelah Pak, saya denger atuh, semua omongan bapak. Siapa tidur, yang ada meringis, situ nggak mau kan saya muntahin sendalnya?

Saya heran deh, kanapa orang-orang seperti ini selalu ada di setiap perjalanan pulang saya. Yang berlagak menunjukkan kita jalan ke bus, tapi buntutnya nyenggol-nyenggol bahu. Saya sudah biasa berkelit kalau ada orang yang dari bentuk-bentuknya mau nyolek saya. Kemarin saya malah berkelit plus menyebut satu makian. Kata adik saya, kalau ngomong f**k itu nggak masalah, secara yang dimaki juga belum tentu ngerti. Ah, ada juga penjaja dagangan yang suka jatuh-jatuhin barang di pangkuan, dan nanti di ambil lagi. Pas mengambil, nanti posisi tangan akan diset sedemikian rupa sehingga bisa sedikit menyentuh anggota tubuh mangsa. Mulai sekarang, kelihatannya saya harus mulai melatih wajah garang di kaca, biar nggak dijadikan bulan-bulanan orang di tengah perjalanan.

Aduh, kok jadi ngelantur ceritanya. Jadi setelah sampai rumah, adik saya tercinta dan satu-satunya, menyodorkan satu kotak. Saya buka dan jreng jreng jreng…!!

Aha! Ternyata isinya VCD STAR WARS Episode III: Revenge of the Sith, salah satu film favorit saya.

Habislah waktu mudik saya untuk beberapa kali memutar ulang, hadiah yang diberikan tanpa maksud itu.

Ps: Nggak penting banget ya, diceritain?

my fave (movie) scenes

June 15th, 2007 by kennisa

Kadang ketika nonton film, kita menemukan beberapa adegan (atau kalimat yang diucapkan dengan ekspresi) yang menempel begitu kuat di otak (dan hati) yang bakal terus kita ingat sampai terbawa mimpi. Ini sering terjadi pada saya. Dan inilah beberapa adegan favorit saya:

- Ketika Ralph Fiennes menyentuh ceruk leher Kristin Scott Thomas dalam The English Patient. Ingat ya, ceruk leher! (What a name! Habis, nggak tau istilah yang tepat)

- Ketika Natalie Portman menyebut namanya (which is bukan nama sebenarnya) saat berkenalan dengan Jude Law di film Closer. "Alice Ayres" Begitu ia menyebutnya, dengan pemenggalan suku kata yang seksi :)

- Ketika Gwyneth Paltrow mengatakan "Finn Bell in New York" pada Ethan Hawke sehabis mereka berbagi pancuran air minum di film Great Expectations. Dia dalam setelan hijau-hijau yang merupakan warna yang mendominasi film ini.

- Ketika Russell Crowe berciuman dengan Jennifer Connelly di bawah pohon dalam A Beautiful Mind. Entah dalam bayangan saya, Russell Crowe di film itu mirip banget dengan cyber friend saya yang sekarang di Jakarta. We used to had nice topics almost everynite. Apa kabarmu? It’s been so long :) Sudah berhasil melupakan masa lalu?

- Ketika Kevin Spacey jongkok di depan Mena Suvari yang sedang berendam air kelopak bunga mawar di film American Beauty.

- Ketika Julia Roberts tersenyum, lalu terdengar lagu She-nya Elvis Costello di film Notting Hill

- Ketika Master Yoda mengatakan "Do or do not, there is no try" dalam Star Wars, lupa yang episode mana. Kelihatannya yang Episode V: The Empire Strikes Back. Nggak perlu dijelaskan kenapa, tapi semua orang menggunakan quotation ini untuk menepis keraguan, kan?

- Ketika Rennee Zellweger mengatakan "Shut up! You had me at hello!" pada Tom Cruise dalam film "Jerry McGuire". Adegan terakhir ini menginspirasi banyak orang. Sayangnya, yang diingat oleh kebanyakan orang adalah "You complete me!" yang diucapkan Tom Cruise. Well, kata tersebut juga bermakna, tapi bagi saya penekanannya tetep lebih pada ucapan Rennee setelahnya. Mood saya rada ‘ancur’ ketika ending film ini diparodikan di Extravaganza, dan Aming mengucapkannya dengan gaya lucu. I like Aming, but not in that scene! Karena dia merusak mindset saya :(

Dan masih banyak lagi. Sayangnya saya harus segera pulang. Masih ada urusan di laundry, perut sudah menginginkan makan siang, dan masih banyak hal menanti hari ini. Janji, lain kali saya akan kembali menulis scene-scene favorit saya di posting lain. So, what’s your scene? Anyone?

fashion as a personal taste

June 15th, 2007 by kennisa

Baru saja pagi ini saya membaca beberapa blog yang mengindikasikan tulisan-tulisannya bak fashion editor. Lebih tepatnya mungkin fashion police. Ada yang menyoroti trend, ada yang lebih ‘nyela’ fashion style-nya selebritis.

Seru sih ketika kita membacanya dan bisa ngakak tanpa ampun. Tapi ketika saya berpikir, bagaimana ketika posisi tiba-tiba terbalik, spontan tawa saya menyurut.

Seandainya kelak saya menjadi selebriti atau termasuk satu di antara crème de la crème dan gaya berbusana saya ditertawakan oleh entah siap nun jauh disana. Dan celaan itu bisa dengan mudah diakses oleh entah siapapun dan dimanapun. Kira-kira bagaimana ya?

Barangkali mereka yang tertawa pun melakukannya sambil lalu. Detik berikutnya wedge heel atau bandana (nggak pernah sekalipun pakai!) saya sudah tak lagi mereka ingat. Tapi bagaimana kalau saya secara kebetulan tahu mereka pernah menertawai saya? Sakit hati saya pasti tak lenyap seketika.

Fashion memang selalu menarik, ketika itu tepat. Di tempat yang tepat, di waktu yang tepat, di era yang tepat. Masalahnya, fashion adalah sesuatu yang gampang kadaluarsa. Meskipun memang ada perkecualian seperti  little black dress atau denim. Modelnya saja yang terus berkembang mengikuti era.

Seperti album foto lama yang kadang ingin kita jelajahi kembali, kadang kita juga ingin kembali mengenang fashion dari era yang telah lama lewat. Dan bagi saya, fashion kadang adalah sesuatu yang emosional. Seringkali kan, kita memakai sesuatu bukan karena kita suka, tapi karena ada kenangan yang melatarbelakanginya?

Impresi fashion (masih menurut saya) juga dipengaruhi oleh persona seseorang. Saya memang tak suka dengan baju-baju yang dipakai Agnes Monica, tapi di sisi lain, saya tak bisa mengingkari bawa adik yang satu ini memiliki otak encer dan pintar bicara. Saya juga tak suka dengan gaya berbusana Titi Dj (meskipun potongan rambutnya sekarang oke banget!), tapi begitu ia menyanyi, saya akan menyimak sampai selesai. Saya tak pernah menikmati musik Gwen Stefani, namun transformasinya dari ‘daster’ biru di video klip Don’t Speak waktu saya SMP ke baju-baju yang sekarang dipakai layak dijadikan inspirasi. Tap kalau bicara tentang Vena Melinda, hm… mending nggak usah diomongin aja deh. Remember, I’m not a fashion police! Dan terus terang, saya takut mantan Putri Indonesia era 90an ini membaca entah dari mana, lantas tersinggung. Lebih menyenangkan memandang dan membicarakan Nadya Hutagalung, bukan? (Ya, iyalah!)

Tapi dari dulu, ada selebriti yang fashion style-nya saya suka banget.  Seems like she could go wih anything! And here she is!

Kennisa 

susah ya, ternyata?

June 15th, 2007 by kennisa

Apa sih? Hehehe… membuat telur matasapi.

Matasapiku

Yang berwarna putih bersih dan bertekstur lembut sebagai pinggirannya dan ada bulatan kuning cemerlang yang matang sempurna di tengah. Harus matang sempurna, karena saya pernah makan bersama seorang teman dan jijik ketika melihatnya menyendok kuning telur yang di dalamnya seperti lendir. Yucks!

Berkali-kali saya mencoba, dan telah menghabiskan hampir sekoli telur kalau diakumulasi. Semuanya gagal, meskipun saya sudah mengumpulkan tips maupun resep dari internat, majalah dan teman. Ada yang digoreng dengan banyak minyak, sedikit minyak, dengan margarin, dan dengan air. Semuanya gagal. Putihnya sudah tidak berwarna putih, karena nungguin kuningnya yang tak kunjung matang. Atau kali lain, kuningnya meleber kemana-mana, sehingga tak layak menyandang nama telur matasapi (sapinya belekan, kali, hehehe…). Dan semuanya berakhir di mulut saya, untung nggak sampai bisulan ;p

Nah, semalam berkat satu ketidaksengajaan, saya berhasil membuatnya. Tidak sengaja, karena saya terbangun tiba-tiba tengah malam oleh mimpi buruk. Mungkin karena lupa cuci kaki dan gosok gigi kali ya? Pulang kerja jam tujuh, rencananya berbaring sebentar, eh, ternyata kebablasan. Sempat menyaksikan akhir Result Show Indonesian Idol yang mengecewakan :( tiba-tiba saya teringat bahwa saya harus berangkat kerja lagi jam setengah lima subuh, dan belum menyiapkan bekal buat sarapan.

Dan karena bahan yang tersedia cuma dua butir telur, akhirnya saya putuskan membuat telur ceplok. Lagian, itu yang memang paling gampang kan? Eh, nggak nyangka, hasil akhirnya oke banget.

Kuncinya ternyata cuma satu. Kesabaran luar biasa, karena menggunakan api yang sangat kecil. Kalau nggak salah hitung, untuk membuat satu telur matasapi ala saya, memakan waktu sekitar setengah jam. Karena males nungguin, saya sempat meninggalkan dapur buat mandi sebentar.

Tapi begitu melihat hasilnya, nggak rugi deh, menghabiskan waktu sebanyak itu. Benar-benar cantik. Saya pamerkan ke satu-satunya teman kos saya yang masih tersisa ketika weekend (karena pekerjaan menuntutnya demikian).

Namun begitu melihat mahakarya itu tersaji di tepak makan saya pagi ini, rasanya kok sayang ya, untuk memakannya? Bagaimanapun, ini keberhasilan pertama saya.  Ah ya, kadang kebetulan bisa begitu menyenangkan ya?

Dan PS: Buat teman-teman lama saya, kaget ya, sekarang saya mulai bisa masak :)

Pulang - Float

June 12th, 2007 by kennisa

dan dulu…

rasa itu tak mungkin lagi

tersimpan di hati

bawa aku pulang rindu,

bersamamu…

dan dulu…

airmata tak mungkin lagi

bicara tentang rasa

bawa aku pulang rindu,

segera…

jelajahi waktu

ke tempat berteduh

hati kala biru

dan dulu…

sekitarku tak mungkin lagi

meringankan lara

bawa aku pulang rindu

segera…

dan dulu…

oh langkahku tak lagi jauh

memudar biruku

jangan lagi pulang

jangan lagi datang

jangan lagi pulang….

dan dulu…

dan dulu…

Ps: Maaf, kalau ada lirik yang salah…secara diapalin karena kebiasaan aja, setiap pagi entah diulang berapa kali di sela waktu siaran. Mungkin kalau ada road movie yang bercerita tentang kehidupan saya, lagu ini akan menjadi soundtrack alternatif kedua. Yang pertama, pastilah In My Life-nya The Beatles.

Kepada Tuan-Tuan terhormat…

June 11th, 2007 by kennisa

Semalam saya nonton film yang sudah pengen saya tonton sejak sebulan lalu. ‘3 Hari Untuk Selamanya’. Mendengar judulnya untuk pertama kali saja, hati saya sudah berdesir. Kesannya dalem. Siapapun yang berada di balik pembuatan judul ini, pasti mengerti betul diri saya. Perasaan-perasaan saya, impian-impian saya, harapan-harapan saya, mengerti diri saya seutuhnya lah!

Alasan lainnya adalah kesukaan saya pada road movie. Dari kecil setiap kali saya bepergian melewati kota asing, terutama di malam hari, saya suka mengamati lampu-lampu rumah yang saya lewati. Ada perasaan semacam ‘mencari tempat pulang’ yang mengendap, sampai sekarang. Itu sebabnya, saya sangat suka lagu tema 3 Hari Untuk Selamanya yang berjudul Pulang.

Dan ketika melihat film ini - meskipun mendapat kursi yang benar-benar nggak bagus - endapan perasaan itu seolah meluap. Tempat-tempat mereka singgah, mengingatkan jejak yang pernah saya tinggalkan pada beberapa diantaranya. Yang paling saya ingat adalah satu tempat makan di tikungan jalan yang dulu juga pernah saya singgahi. Tidak hanya itu saja, tapi juga tentang pembicaraan yang mereka lakukan sepanjang perjalanan. Hal-hal kecil remeh yang justru di situlah letak pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang paling esensial. Pilihan hidup, keperawanan, etika sosial, kegundahan yang terpendam, yang diungkapkan dalam bahasa sehari-hari.

Ah ya, meskipun banyak hal yang manis dari film ini, ada satu yang sangat mengecewakan saya. Yaitu pemotongan-pemotongan di beberapa bagian yang mengurangi kekhidmatan saya dalam menikmati film ini. Saya mengeluh, kepada lembaga sensor karena telah menyortir beberapa adegan penting. Saya tahu, lembaga sensor sedikit banyak berperan terhadap kondisi moral bangsa, karena itu memiliki hak untuk ‘menertibkan pelanggaran’ pada bidang yang ditangani, yang dalam hal ini adalah film.

Tapi saya sebagai penonton merasa telah diambil haknya, ketika di adegan terakhir, dimana airmata saya telah berada di ambang batas menetes, tiba-tiba tanpa ada yang menduga, adegan terpotong begitu saja menuju fade to black yang seolah menjadikan kami, penonton, bisa dibodohi begitu saja. Dan airmata saya tak jadi menetes. Saya ingin menuntut atas emosi saya yang terenggut begitu saja. Tapi apa bisa saya? Cuma menggerutu sepanjang perjalanan pulang, disela-sela lagu Float yang saya nyanyikan asal-asalan.

Tapi saya sadar, ini tetap tidak adil. Bagi saya tidak masalah kalau adegan seksual selepas pesta perkawinan di Yogyakarta dipotong. Adegan itu toh nggak bagus-bagus amat (terlalu terburu-buru menurut saya, dan terkesan tidak ada gairah, melainkan lebih ke ‘risih’ karena pastinya ada banyak kru di sekeliling mereka).  Dan sebenarnya kalau tidak ingin dipotong, mungkin adegan itu bisa diganti dengan sesuatu yang tidak terlalu eksplisit. Tapi adegan terakhir yang berharga, yang membuat saya hampir menangis, tiba-tiba dipotong begitu saja. Saya bilang pada si hani, rasanya seperti orgasme yang nggak jadi, katakanlah, ke-gap tiba-tiba.

Saya menanyakan juga pada teman nonton saya, pertanyaan-pertanyaan retoris.

Sebenarnya apa sih perlunya sensor? Bukankah dalam kepala kita masing-masing itulah sensor yang sebenarnya berada. Kenapa perlu diseragamkan apa yang boleh dan tidak untuk disaksikan? Bukankah sudah cukup, dengan menempel tulisan 18+ di posternya? Dan ketika -18 ternyata ikut berpartisipasi, sekedar memuaskan penasaran, bukankah itu berarti mereka hanya merayakan pilihan mereka? Apakah dengan dipotongnya beberapa adegan dengan kasar, itu berarti kita menjadi bangsa yang lebih berbudaya? Atau itu hanya arti lain dari kekuasaan?

Terlalu banyak yang saya pikirkan sejak menyaksikan film itu. Mari kita tanyakan saja jawabannya pada tuan-tuan terhormat di lembaga sensor.

selingkuh

June 6th, 2007 by kennisa

Pagi ini saya selingkuh. Bukan, bukan selingkuh dari si hani. Begini cerita lengkapnya:

"Oahm…."

"Ngantuk Ken? Pasti belum mandi ya?

"Hehe…kok tau sih, aih jadi malu deh. Habis, matiin weker trus tidur lagi, jam setengah lima baru bangun"

Pause sebentar. Karena saya tiba-tiba ingat sesuatu. Untuk saya, ada satu resep yang manjur buat segala jenis penyakit. Mulai perut hingga mental. Termasuk ngantuk tentunya. Lalu…

"Pak Pra, biasanya bawa kopi, kan? Boleh minta?"

"Wah, kayaknya udah habis. Tapi bukan yang biasa kamu minum lho"

"Nggak pa-pa deh. Seadanya aja…males keluar"

Pak Pra keluar dan membawa bungkusan kopi warna hitam cokelat, yang dulu sering saya lihat mobil distributornya memajang wajah Tamara Blezynsky. Ah, mbak yang satu ini, apa bener pecandu kopi, wong kulitnya mulus bener begitu…

"Tinggal dikit banget Ken. Cukup nggak?"

"Buat ngusir ngantuk bentar kok. Makasih ya, Pak!"

Beberapa orang memperhatikan saya menyeduh kopi. Digulain, enggak, digulain, enggak. Memang benar ya, pengalaman pertama selalu mendebarkan. Please deh, ini kopi Ken, bukan ciuman…

"Nggak usah dikasih gula. Sama kopi yang biasa kamu minum, ini kalah jauh" Ini Pak Dwi yang ngomong.

Tapi akhirnya saya masukkan gula sedikit. Bener-bener sedikit, kurang dari setengah sendok teh. Aduk, aduk, aduk, voila! Jadilah beberapa cc kopi hitam (secara dikit banget). Tapi begitu mau minum, kok jadi ragu-ragu ya? Karena aroma yang saya hirup ketika wajah saya mendekat ke cangkir tidak seperti biasanya. Kepekatan warna juga tak seperti biasanya.

Bukan karena takut keracunan, tapi karena saya adalah konsumen konservatif, seperti yang pernah saya ceritakan di blog saya sebelumnya. Kecintaan saya pada satu brand yang terlanjur cocok kadang bisa begitu mendarah daging, sehingga saya tak mau lagi menyentuh produk lain, yang dari segi komposisi maupun packaging kadang lebih menggiurkan. Dan ps, ini menandakan bahwa saya tipe cewek setia, dong! (you see, hani?)

Akhirnya tiba saat saya menyeruput kopi ‘terpaksa’ tadi. Huehehehe…rasanya, ehm…nggak bisa dijelaskan deh. Orang-orang di kantor memandangi saya setengah tertawa. Ah ya, kebiasaan saya menulis sambil menikmati kopi pekat di cangkir kecil warna merah memang telah menjadi pemandangan mereka setiap pagi.

Tak tahan, akhirnya saya memaksakan diri keluar juga dan membeli kopi yang sudah bertahun-tahun menjadi ‘pacar’ saya. Dan sekarang, saya sudah duduk di singgasana saya, dengan tangan kanan mengetik dan tangan kiri memegangi si cangkir merah.

Srpp….. srup… hm…….

sensitiveness: would you love me enough even if…

June 2nd, 2007 by kennisa

Dalam sebuah hubungan, mau tidak mau akhirnya kita memasuki tahap sensitif. Sensitif disini adalah ketika romance dan perasaan berbunga-bunga ala abege itu telah berlalu. Bukan berarti ini adalah saat untuk mengakhiri hubungan. Bagaimanapun, yang namanya akhir hubungan pasti selalu membawa dampak tak nyaman dalam kehidupan. Seburuk apapun hubungan itu berjalan.

Pasti masih ada banyak hal yang tersisa, yang membuat kebersamaan itu tetap ada. Komitmen salah satunya.

Nah, ketika sampai dalam taraf ini, saya yakin (terutama bagi perempuan) seseorang pasti menyimpan pertanyaan "would you love me enough even if ….." Titik-titik boleh diisi dengan apa saja, karena memang kondisi setiap pasangan berbeda. Bahkan Carrie Bradshaw pun menanyakan pada dirinya sendiri pertanyaan yang sama ketika telah dua bulan berhubungan dengan Aleksandr Petrovsky. Alek, yang telah menjalani vasektomi, membuat Carrie ragu-ragu untuk terus bersama. Sementara dia sendiri masih ragu-ragu apakah dia benar-benar menginginkan punya anak pada saat itu. 38 tahun, sementara jam biologisnya semakin berdetak, ia semakin gamang. Apakah cintamu cukup besar untuk mengganti kemungkinan bahwa aku tidak akan memiliki anak nantinya?

Saya memahami sekali seperti apa perasaan Carrie pada saat itu, pasalnya karakter kami nyaris sama. Sebenarnya ia ingin punya anak, tapi enggan melepaskan pria ini. Kenyamanan yang didapat dari sebuah hubungan yang jelas memang tak layak untuk disia-siakan.

Nah, ketika pertanyaan sensitif mulai muncul, apakah sopan ketika pertanyaan itu diutarakan begitu saja. Pertanyaan sensitif barangkali bisa dianalogkan dengan bom waktu. Ia bisa meledak kapan saja, dan kita tidak pernah tahu efek seperti apa yang dibawa. Ia bisa merekatkan hubungan (dia tiba-tiba melamar, hehe…) atau menghancurkan hubungan begitu saja.

Timing yang tepat kelihatannya memiliki pengaruh besar di sini. Kalau kita ingin membicarakan masalah sensitif, mungkin harus menunggu waktu ketika dia sedang santai, mencari kata-kata yang tepat yang nantinya tidak membuat dia merasa terintimidasi. Satu pertanyaan kembali melintasi kepala ketika sedang menulis paragraf ini. Kenapa sih, selalu perempuan yang menyesuaikan diri? Charlotte York, sahabat Carrie, mengatakan bahwa wanita lebih adaptable. Uh, untunglah pria saya yang sekarang tidak egois. Dia selalu bersedia beradaptasi dengan saya.

Kembali lagi ke masalah ‘would you love me enough’ tadi, saya pernah mengatakan kepada sahabat saya yang terobsesi dengan Fear Factor, dan menginginkan saya menjadi pasangan Fear Factornya.

"Jo, would you love me enough even if I don’t want to eat worm"

‘Would you love me enough’ juga kadang-kadang memenuhi pikiran saya. Tak heran, karakter saya memang sangat Carrie. Tapi seandainya saya Carrie Bradshaw, saya tak akan melakukan kesalahan yang menurut saya pernah dia lakukan. Meninggalkan Aidan Shaw.

Dia hidup dalam serial televisi, yang memiliki sutradara yang dari awal telah berencana menghadirkan Big untuk menjadi teman hidup Carrie (saya sudah menebak dari awal) yang terakhir. Tapi saya hidup di real life, dengan satu-satunya sutradara adalah Tuhan, yang saya kenal sebagai Sang Maha Misterius. Seperti saya sering bilang, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan bertemu nanti. Dan dengan siapa kita akan berakhir nantinya.