Archive for July, 2007

little princess

Thursday, July 5th, 2007

I feel like a little princess.

Semalam, seseorang yang sangaaaat spesial, memanggil saya dengan sebutan itu. Meskipun, katanya barusan, itulah cara dia memanggil perempuan (*kecewa sedikit* berarti nggak ke saya aja dong!), tapi saya tetep seneng. Pembicaraan sebelumnya agak kurang menyenangkan. Mungkin karena saya PMS, jadi lebih gampang uring-uringan. Tapi panggilan little princess yang diucapkan dalam tempo dan irama *hayah* yang pas, sanggup membuat hati saya meleleh, lumer.

Pada dasarnya saya suka dipuji dengan cara-cara lain. Misalnya, saya menandai seorang customer di tempat saya bekerja sebagai sosok pria dengan sense of humor tinggi, dan berselera. Ketika saya memberi referensi kepadanya (dengan gaya flirting saya seperti biasa), dia memuji saya. "Delapan puluh dibagi dua kali tiga berapa, mbak?" Oh well, dia tidak bilang saya jenius, tapi dia mengatakan saya jenius secara tersirat. FYI, jenius adalah kata yang sering digunakan olehnya. Seperti ketika saya salah memberikan informasi, dan dia mengoreksi, setelahnya dia akan berkata "Look who’s genius now?"  Ah ya, saya suka sekali pada pemuda berkacamata itu. Cowok humoris memang nggak pernah basi.

Oh ya, kembali lagi ke ‘little princess’, untuk Anda, pria yang mungkin ingin meluluhkan hati pasangan Anda, sebutan itu rasanya layak untuk dimasukkan ke kamus Anda. Percaya atau tidak, seharian ini saya bakal tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.

apa isi kamus kita hari ini?

Sunday, July 1st, 2007

Coba bandingkan, appearance kita saat ini dengan appearance manusia-manusia dari abad pertengahan. Wanitanya memakai rok dengan kerangka kandang burung di dalamnya, sementara si pria memanjangkan rambut di samping telinga dan menggelungnya jadi tiga atau empat. Oh, saya masih ingat, dulu ketika SMP saya suka sekali nonton filn gebuk-gebukan Hong Kong dan melihat bahwa hakim-hakim di sana memakai wig berupa gelungan-gelungan rambut semacam itu. Menggelikan? Jelas!

Nggak usah jauh-jauh lah, tampilan remaja a la kita, dengan a la oom dan tante kita di tahun 80an lalu. Beda banget kan? Mungkin kalau melihat White Shoes and The Couple Company, mereka berasa nostalgia ya? Sekaligus bercermin :) Dan di tahun 80an, tampilan semacam itu sudah sangat up to date buat mereka.

Things change. Ini adalah kalimat yang saya garis bawahi dari film Kundun-nya Martin Scorcese. Dunia terus berputar dan memaksa penghuninya berubah. Bentuk manusia yang terus menerus beradaptasi dengan lingkungan. Kebayang nggak sih, jaman dulu katanya tinggi manusia bisa mencapai lima meter? (There you go, Darwin!).

Tren juga terus datang dan  pergi. Bukan hanya soal fashion. Acara televisi (dan radio of course), aksesoris, interior rumah, gadget, tempat makan sampai bahasa. Lucu kan, kalau di pertengahan 2007 ini kita masih mendengar istilah asoy, atau coy? Atau panggilan ‘maan’. "nggak gitu dong, maan!" Ouch, that’s definitely OUT-OF-DATE. Knock, knock, from which century are you?

And speaking about how-to-be-up-to-date-in-language, memang kita harus membuka mata dan telinga lebar-lebar. Pasalnya tidak ada aturan tertulis kapan era yang dimiliki satu kata akan berakhir. Sebuah kata yang akhirnya menjadi tren dan seolah menjelma sebagai jargon hampir semua orang, masuk ke ruang pergaulan tanpa permisi, pun pergi tanpa pamitan. Dan pernahkah terlintas di pikiran Anda, siapa sih sosok di balik penciptaan kata yang ear catchy, yang tanpa publicist hebat sekalipun, selalu diingat dan digunakan orang. Rasanya kalau nggak ngomong begitu, kurang keren.

Tayangan televisi Extravaganza adalah salah satu yang menurut saya kerap menciptakan istilah-istilah baru nan ajaib yang akhirnya menjadi jargon sejuta umat. Adik saya adalah penonton sejati Extravaganza yang kalau nggak terpaksa sekali nggak akan absen. Jadi dia kerap menjadi informan saya untuk istilah-istilah nggak-penting-penting-amat-tapi-penting-juga tersebut.

Suatu hari seorang teman bertanya sama saya, "siapa sih yang menciptakan kata ’secara’ sebagai bahasa slang? Secara sekarang kata itu digunakan secara massal". Coba perhatikan kalimat kedua. Ada dua secara yang saya cetak tebal. Secara kedua tentu saja sudah lazim kita temui di pelajaran bahasa Indonesia atau ketika berada dalam sebuah presentasi. Sementara secara yang pertama, adalah hasil penemuan sosok jenius tak dikenal. Pada mulanya, telinga saya agak geli mendengarnya. Tapi karena terlalu banyak orang yang menggunakan dan kata itu menjadi familiar, maka  serupa doktrin yang tidak saya sadari, saya mulai menggunakannya.

"Kennisa, kalau ditelpon, suara kamu bagus banget" (*dongkol mode on* berarti aslinya enggak?)

"Ya, iyalah. Secara penyiar…"

Nah, bagaimana? Saya sudah bisa masuk ke Kursus Secara level advance?

Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, istilah gaul terus berkembang. Jadi sebagai saran saja, sebaiknya kita menyediakan alat tulis dan penghapus, sekedar untuk berjaga-jaga menyambut dan melepas istilah-istilah yang datang dan pergi dari kamus istilah kita. Aduh boo, cape deh…:)