My future home

Kalau ditanya tentang rumah, rumah dalam artian harfiah, pikiran saya jadi gamang. Hingga sekarang, yang bisa saya sebut rumah adalah tempat di mana kedua orangtua saya tinggal. Yang saya singgahi sebulan sekali, atau lebih ketika pikiran penat. Dan rumah orang tua saya juga memenuhi syarat sebagai rumah dalam arti kiasan. Menghilangkan setiap lara, selalu terbuka bagaimanapun kondisi saya, dan dimanapun saya, selalu menimbulkan rasa kangen untuk ‘pulang’.

Tapi saya sadar, saya tak bisa terus menerus menikmati kenyamanan tersebut. Orang tua yang begitu melindungi,yang sampai saya sudah segedhe ini, masih ‘dioyak-oyak’ ke dokter ketika tahu saya ‘tepar’.

Saya harus mulai membangun ‘rumah’ saya sendiri. Yang akan memanggil-manggil saya untuk pulang. Yang membuat saya nyaman, meskipun kelak barangkali akan saya tinggali sendiri. Deskripsinya? Hm… agak sulit.

Lokasi terbaik mungkin pantai. Karena seberapa menyengat udaranya atau betapa besar bahaya tsunami yang mengancam, rasa cinta saya pada elemen-elemen pantai tidak pernah surut. Air, pasir, biru, buih putih. Tapi betapapun cinta saya dengan pantai, rasanya tak tahan kalau saya terus menerus tinggal di lingkungan itu. Di sekitar pantai, kita tak bisa menemukan Gramedia atau Starbucks, kan? Yah, kalau saya menetapkan hati untuk tinggal di pantai, saya juga harus menetapkan diri untuk terisolasi dari peradaban. Dan belum lama ini, saya mengikuti kuis yang menunjukkan kota yang tepat untuk saya tinggali setelah menjawab beberapa pertanyaan, and voila, ternyata New York City adalah the city where I should live in. Dan tak ada pantai di New York City kan? Oh well, sebenarnya ada. Kalau Anda tinggal di Manhattan, Anda akan menjumpai New Jersey di seberang pantai. Tapi pantainya Manhattan berbeda dengan yang ada dalam kepala saya, setiap kali kata ‘pantai’ melintas.

Cukup tentang lokasi. Kalau tidak terlalu banyak polusi, masih cukup hijau - saya bilang cukup, karena mencari yang benar-benar hijau di jaman sekarang rasanya seperti mencari McD di pedalaman Kenya - dan ada ruang bagi saya berjalan-jalan sore bersama anak atau anjing, rasanya sudah cukup.

Sekarang tentang deskripsi rumah itu sendiri. Dari kecil, orangtua saya memberi contoh pada anak-anaknya untuk mencintai kehidupan. Menanam pohon, memelihara binatang. Saya tumbuh besar dengan menikmati buah-buahan dari kebun sendiri. Jambu bangkok, Pepaya, mangga yang jumlahnya tak terhitung, sirsak, sirkaya (ada yang tahu buah ini?), pisang, anggur, cermai, bahkan kelapa. Dan tampaknya semua binatang peliharaan pernah ada di rumah saya. Ayam, kambing, bebek, angsa, ayam kalkun, kelinci, kucing, burung, burung hantu, ikan (dalam kolam maupun akuarium), hingga lebah tang menyuplai madu asli buat saya setiap bulan. Yang belum barangkali cuma anjing. Karena meskipun sangat ingin, kata banyak orang liurnya tak boleh disentuh. Padahal saya pernah merasakan wajah saya dijilat Negra, anjingnya Shaggydog, dan rasanya enak benar. Meski setelah itu saya harus mandi tujuh kali, dengan debu pula!

Nah, saya ingin rumah masa depan saya tidak jauh berbeda dengan rumah masa lalu saya. Banyak tanaman, dan ada binatang untuk dirawat. Saya pernah membaca satu artikel yang mengatakan bahwa cuddling bisa membunuh stress. Dan tanaman? Apapun wujudnya, entah pohon ataupun semak-semak - yang enak dilihat tentunya - ataupun bunga-bungaan, yang pasti bisa menyuplai oksigen bagi saya dan orang-orang yang tinggal di rumah saya. Barangkali tidak sehebat kalau saya bergabung dengan WWF, tapi setidaknya saya telah melakukan satu hal. Satu alasan lagi. Orangtua saya telah mengajarkan hal mulia yang akan saya ajarkan pada anak-anak saya nantinya. Yaitu mencintai makhluk hidup lain. Berapapun banyak kucing yang kami punya dalam satu waktu, bapak saya tidak akan pernah tega membuangnya. Entah itu yang sakit-sakitan, nakal, suka buang air sembarang tempat, semua mendapat perlakuan sama.

Oke, kembali ke rumah idaman saya. Mari kita tengok bagian dalamnya. Hal pertama yang menjadi prioritas saya dalam mambangun rumah adalah kamar mandi. Sampai saat ini, kamar mandi adalah tempat bagi saya untuk membersihkan diri, dalam arti harfiah maupun kiasan. Stress, membutuhkan inspirasi, ingin ber-soliloqui, atau mau nyanyi seenak jidat, kamar mandi adalah tempat yang selalu tepat. Maka saya berniat membangun kamar mandi saya selayak mungkin. Dan kalau Anda pernah membaca blog saya tentang kolong tempat tidur, Anda pasti tahu yang saya maksud. Hal-hal tersembunyi justru menunjukkan siapa kita sebenarnya.

Ruangan-ruangan lain belum sempat terpikir. Tapi dari dulu, dalam imajinasi saya, rumah selalu memiliki pagar kayu bercat putih seperti yang selalu ada dalam drama keluarga Amerika. Dan ada trotoar di depan juga jalan raya yang tidak dilewati banyak kendaraan, agar anak saya bebas bersepeda atau main skateboard.

Hal-hal yang sudah saya tulis bisa sekali berubah, seiring waktu. Yang terpenting dulu, sebenarnya adalah mencari ’seseorang’ yang akan membuat saya selalu ingin ‘pulang’. Kalau ini, berubahpun rasanya akan membutuhkan proses yang sangat panjang. Ada yang berminat? Anyone?

Leave a Reply