Archive for June, 2007

you are how you mention your label

Wednesday, June 27th, 2007

‘yuk, ke kêrfor?’ ajak seorang teman.

Saya mengernyit.

‘belanja!’ lanjutnya sambil mengangsurkan brosur Carrefour.

‘Oh, karfur’ kata saya.

Karena dari Perancis, Carrefour tidak dibaca a la Inggris seperti yang dilafalkan teman saya tadi.

Anda barangkali juga pernah mengalami kejadian seperti saya. Terjadi missunderstanding kecil hanya karena pelafalan yang berbeda. Bagi saya, ini adalah problem serius. Penyebutan nama yang salah tidak hanya akan menyebabkan missunderstanding, tapi juga akan membuat orang lain meng-under estimate kita. Saya contohnya. Saya pernah berbicara dengan teman yang saya pandang high, dari segi kemampuan maupun pergaulannya. Tapi begitu dia menyebut Versace dengan ‘versas’, saya langsung ilfil.

Penyebutan nama yang tepat akan menunjukkan bahwa kita peduli. Bahwa kita mengerti. Bahwa kita well-educated person. Dan penyebutan nama atau label asing yang salah akan membuat kita terlihat bodoh. Uneducated. Meskipun impresi saya akan uneducated di sini tidak sama dengan uneducatednya orang latah.

Oke, barangkali sulit melafalkan label-label asing yang tidak semuanya dari Inggris tersebut. Tapi kalau seseorang mempunyai cukup uang untuk membeli couture dari Gucci atau perhiasan dari Van Cleef and Arpels, tentu saja dia memiliki uang lebih dari cukup untuk sekedar kursus bahasa Perancis atau Itali. At least, beli kamus lah, yang ada cara membacanya. Atau kalau enggan bersusah payah, dihapal kan juga bisa. Paling tidak, ini adalah usaha untukmengurangi rasa malu.

Nggak enak didengar kan (di arisan misalnya), ibu-ibu lagi pamer tas baru. ‘Lihat ni, luis viton, limited edition loh, jeung’.

Kalau nggak mau malu, Silahkan membeli produk-produk keluaran Itali, karena cara membacanya sama dengan tulisannya. Prada, Armani, Ferragamo. Atau label Spanyol seperti Massimo Duti. Selalu lebih sulit bahasa Perancis. Karena antara tulisan dan pengucapan berbalik 180 derajat. Yves Saint Laurent dan Chanel, tidak bisa dibaca sama sesuai dengan yang saya tulis. Ah, dan kadang-kadang ada perkecualian. Huruf terakhir dalam bahasa Perancis biasanya tidak dibaca. Tapi label yang memajang favorit saya Gemma Ward sebagai modelnya, Hermes, tetap dibaca dengan akhiran ’s’. Jadi, tidak ada salahnya kan mulai menghapal dari sekarang? Siapa tau, nanti saya mendapat suami kaya raya yang mengajak liburan seminggu sekali dengan lokasi terdekat Orchad Road, hehehe….

What does my birth date mean

Tuesday, June 26th, 2007

Saya lahir antara tanggal 31 Juli dan 1 Agustus, kata orang tua saya, waktu itu sudah midnite. Tapi, tanggal yang terakhir yang saya sebutlah yang tercetak di semua dokumen kehidupan saya. Dan seandainya kedua tanggal itu preferable buat saya, saya juga akan tetap lebih memilih yang terakhir. Ada banyak alasan mengapa. Angka 1 bagi saya adalah angka yang powerful. Ia menjadi awal dari segalanya (jika kita menafikan angka 0 yang fenomenal, yang bagi saya adalah simbol ketiadaan. Betapapun banyak yang kita punya, ketika berhadapan dengan nol, they’re gonna be nothing).

Dan ketika saya iseng mengikuti satu kuis tentang tanggal lahir saya, dan melihat hasilnya, jelaslah sudah bahwa saya memang seharusnya lahir beberapa menit setelah midnite. Mungkin sesuai dengan sifat tak sabaran saya, saya tak mau terlalu menunggu lama untuk menghirup udara di dunia kala itu, jadi saya meluncur lebih cepat dari yang Tuhan mau.

Ini dia hasilnya:

You are a natural born leader, even if those leadership talents haven’t been developed yet.
You have the power and self confidence to succeed in life, and your power grows daily.
Besides power, you also have a great deal of creativity that enables you to innovate instead of fail.
You are a visionary, seeing the big picture instead of all of the trivial little details.

Your strength: Your supreme genius

Your weakness: Your inappropriate sensitivity

Your power color: Gold

Your power symbol: Star

Your power month: January

Can’t help myself to flirt :)

Tuesday, June 26th, 2007

Saya harus menegaskan di awal posting ini bahwa saya sangat suka flirting. Dan belakangan baru saya rasakan, kesukaan saya akan flirting meruipakan bawaan lahir. Bukan genetis tentu saja, karena saya tak pernah melihat ibu atau bapak saya melakukan hal yang sama. Melainkan bakat. Baru beberapa detik lalu saya membahas hal ini dengan salah seorang rekan kerja di sela-sela obrolan pagi sambil menikmati kopi, dan dia menganjurkan saya untuk menulisnya, agar menjadi semacam pelajaran bagi mereka yang ingin mulai melakukan pendekatan.

Saya mengatakan tidak, meskipun toh saya tulis juga akhirnya. Begini, kalau kita bicara tentang korelasi antara bakat dan keberhasilan, pertama kita harus menciptakan kategori. Menulis juga merupakan bakat. Tetapi kita hanya membutuhkan kurang dari sepuluh persen saja untuk memenuhi seratus persen keberhasilan menciptakan sebuah tulisan. Jelas, bakat memiliki peran relatif sedikit di sini. Yang mendominasi keberhasilan menulis sebenarnya adalah usaha dan keengganan untuk menyerah.

Lain dengan flirting. Kita tidak terlalu membutuhkan usaha, karena (terutama bagi saya), flirting adalah sebuah tindakan spontan. Begitu kita berhadapan dengan seseorang, secara otomatis tubuh kita akan membentuk gesture  tertentu dan kata-kata seolah tercetak begitu saja di otak.

Oke, sekarang saya bekerja di tempat yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang. Wajah berhadapan dengan wajah, bukan sekedar impresi yang tercipta di otak melalui suara. Dan kerapkali saya menemukan sosok-sosok menarik di tempat kerja baru saya. Barangkali inilah yang membuat saya akhirnya sadar, bahwa kemampuan (plus keinginan) flirting merupakan bawaan lahir. Karena di antara rekan-rekan kerja saya yang lain, sayalah yang paling genit. Selalu ada intensitas dari apa yang saya ucapkan, atau gerak yang saya lakukan.

Saya contohkan, ketika saya menjumpai kembali wajah seseorang yang pernah bertukar obrolan seru tentang film, saya spontan berkata ‘Hei, I recognize your face. How’re you doing?’ Atau kali lain, ketika saya bertemu orang yang berbeda yang saya kenali wajah juga kebiasaannya, spontan saya menyapa ‘Hello Belluci’s number one fan…’ Dan senangnya, pria-pria jaman sekarang tidak lagi konservatif dengan menganggap hal ini sebagai compliment biasa. Artinya mereka tidak lantas kege-eran. Dan Anda tentu bisa menebak, interaksi kami selanjutnya berlangsung lebih seru lagi.

Orang yang suka flirting seperti saya, kadang melakukan penyangkalan, bahwa itu dilakukan sekedar untuk beramah tamah. Tapi saya bilang, ramah tamah hanya berhenti pada senyum dan sapaan standar ‘apa kabar?’. Pun, ramah tamah tidak disertai dengan gesture. Please, jangan berpikir terlalu jauh dengan membayangkan saya bergerak terlalu vulgar dengan menyorongkan dada saya misalnya, definitely not like that! Saya hanya membuat posisi saya lebih terbuka sehingga menunjukkan pada mereka, pria-pria itu, bahwa saya siap untuk obrolan lebih lanjut.

Dan jangan salah sangka juga, flirting adalah kata lain dari approach kecil-kecilan. Bukan berarti kita meniatkan diri untuk berhubungan lebih. Nope! I have one already in my heart, and two would make it too much. Flirting adalah flirting, dan salah atau benarnya tak bisa saya katakan. Siapalah saya? Saya tidak dalam kapasitas untuk menilai sesuatu.

Postingan kali ini bukan saya maksudkan untuk edukasi.Tapi untuk Anda yang niat ingin memulai (karena barangkali sekarang sudah menemukan seseorang yang layak untuk diflirtingin), itu juga bukan hal yang mustahil. Meskipun di awal saya bilang bahwa flirting adalah bakat, tapi bisa banget dipelajari. Baca buku, novel, chicklit, tonton banyak film, buka mata dan lihat kejadian sekitar, and see how people behaves. Dari sanalah Anda akan mendapatkan banyak ide. Tapi saya tetap berpesan satu hal yang terdengar klise, mudah diucapkan, namun butuh perjuangan untuk melakukan: BE YOURSELF!

I love ya

Tuesday, June 26th, 2007

Tadi siang, saya habis menonton drama lama ‘Something’s Gotta Give’. Saya tak pernah begitu suka dengan Jack Nicholson, entah, karena wajahnya nakal, bukan masuk golongan tipe saya, atau karena perannya selalu nakal. Wah, kalau alasan yang terakhir, berarti aktingnya berhasil mengecoh saya dong.

Yang ingin saya tulis sebenarnya bukanlah ketidaksukaan saya pada Jack. Tapi bagaimana film ini menggabarkan perempuan yang sebenarnya. How does women react in this kind of situation. Nancy Meyers menuliskannya dengan tepat, mengarahkannya dengan tepat, dan Diane Keaton menangkap arahan itu dengan sangat tepat.

Perempuan akan 180 derajat berubah ketika jatuh cinta. Dan perasaan berbunga-bunga karena jatuh cinta itu akan 180 derajat berbalik menjadi patah hati karena melihat satu kejadian, atau mendengar satu pernyataan. Dan reaksi setelahnya, kami perempuan, akan berusaha untuk membuat penyangkalan bahwa kami telah jatuh cinta dan disakiti. Penyangkalan terhadap diri sendiri. Akan ada perang batin yang hebat di dalamnya. Betapapun kami berusaha mendongakkan dagu ketika berjalan, pada saat sendirian, kami tetap akan menangis menggerung. Di hadapan orang yang tak begitu dikenal, kami akan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Tapi dengan teman dekat, tanpa ditanya pun cerita akan meluncur dan airmata mengucur, dengan sendirinya.

Yah, ini hanya pengamatan yang saya lakukan pada perempuan-perempuan di sekitar saya. Dan data ini tidak akurat, karena kadang saya juga menemukan perempuan yang tidak bersikap sama. Tapi terus terang, jarang sekali.

Yang ingin saya lakukan ketika menonton film itu adalah, mengajak di hani menontonnya juga. Lantas di kepala saya, ada tanya jawab imajiner.

Saya : See? That’s us. Women.

Si Hani : Really? Including you, Baby?

Saya menggeleng.

Saya : No, Hon. Not including me. Especially me :)

Hm…terus kenapa kali ini judulnya ‘I love ya’? Ini adalah satu quotation dari Something’s Gotta Give. I don’t know if it ends in a ‘ya’ if it’s a true ‘I love you.’

My future home

Tuesday, June 26th, 2007

Kalau ditanya tentang rumah, rumah dalam artian harfiah, pikiran saya jadi gamang. Hingga sekarang, yang bisa saya sebut rumah adalah tempat di mana kedua orangtua saya tinggal. Yang saya singgahi sebulan sekali, atau lebih ketika pikiran penat. Dan rumah orang tua saya juga memenuhi syarat sebagai rumah dalam arti kiasan. Menghilangkan setiap lara, selalu terbuka bagaimanapun kondisi saya, dan dimanapun saya, selalu menimbulkan rasa kangen untuk ‘pulang’.

Tapi saya sadar, saya tak bisa terus menerus menikmati kenyamanan tersebut. Orang tua yang begitu melindungi,yang sampai saya sudah segedhe ini, masih ‘dioyak-oyak’ ke dokter ketika tahu saya ‘tepar’.

Saya harus mulai membangun ‘rumah’ saya sendiri. Yang akan memanggil-manggil saya untuk pulang. Yang membuat saya nyaman, meskipun kelak barangkali akan saya tinggali sendiri. Deskripsinya? Hm… agak sulit.

Lokasi terbaik mungkin pantai. Karena seberapa menyengat udaranya atau betapa besar bahaya tsunami yang mengancam, rasa cinta saya pada elemen-elemen pantai tidak pernah surut. Air, pasir, biru, buih putih. Tapi betapapun cinta saya dengan pantai, rasanya tak tahan kalau saya terus menerus tinggal di lingkungan itu. Di sekitar pantai, kita tak bisa menemukan Gramedia atau Starbucks, kan? Yah, kalau saya menetapkan hati untuk tinggal di pantai, saya juga harus menetapkan diri untuk terisolasi dari peradaban. Dan belum lama ini, saya mengikuti kuis yang menunjukkan kota yang tepat untuk saya tinggali setelah menjawab beberapa pertanyaan, and voila, ternyata New York City adalah the city where I should live in. Dan tak ada pantai di New York City kan? Oh well, sebenarnya ada. Kalau Anda tinggal di Manhattan, Anda akan menjumpai New Jersey di seberang pantai. Tapi pantainya Manhattan berbeda dengan yang ada dalam kepala saya, setiap kali kata ‘pantai’ melintas.

Cukup tentang lokasi. Kalau tidak terlalu banyak polusi, masih cukup hijau - saya bilang cukup, karena mencari yang benar-benar hijau di jaman sekarang rasanya seperti mencari McD di pedalaman Kenya - dan ada ruang bagi saya berjalan-jalan sore bersama anak atau anjing, rasanya sudah cukup.

Sekarang tentang deskripsi rumah itu sendiri. Dari kecil, orangtua saya memberi contoh pada anak-anaknya untuk mencintai kehidupan. Menanam pohon, memelihara binatang. Saya tumbuh besar dengan menikmati buah-buahan dari kebun sendiri. Jambu bangkok, Pepaya, mangga yang jumlahnya tak terhitung, sirsak, sirkaya (ada yang tahu buah ini?), pisang, anggur, cermai, bahkan kelapa. Dan tampaknya semua binatang peliharaan pernah ada di rumah saya. Ayam, kambing, bebek, angsa, ayam kalkun, kelinci, kucing, burung, burung hantu, ikan (dalam kolam maupun akuarium), hingga lebah tang menyuplai madu asli buat saya setiap bulan. Yang belum barangkali cuma anjing. Karena meskipun sangat ingin, kata banyak orang liurnya tak boleh disentuh. Padahal saya pernah merasakan wajah saya dijilat Negra, anjingnya Shaggydog, dan rasanya enak benar. Meski setelah itu saya harus mandi tujuh kali, dengan debu pula!

Nah, saya ingin rumah masa depan saya tidak jauh berbeda dengan rumah masa lalu saya. Banyak tanaman, dan ada binatang untuk dirawat. Saya pernah membaca satu artikel yang mengatakan bahwa cuddling bisa membunuh stress. Dan tanaman? Apapun wujudnya, entah pohon ataupun semak-semak - yang enak dilihat tentunya - ataupun bunga-bungaan, yang pasti bisa menyuplai oksigen bagi saya dan orang-orang yang tinggal di rumah saya. Barangkali tidak sehebat kalau saya bergabung dengan WWF, tapi setidaknya saya telah melakukan satu hal. Satu alasan lagi. Orangtua saya telah mengajarkan hal mulia yang akan saya ajarkan pada anak-anak saya nantinya. Yaitu mencintai makhluk hidup lain. Berapapun banyak kucing yang kami punya dalam satu waktu, bapak saya tidak akan pernah tega membuangnya. Entah itu yang sakit-sakitan, nakal, suka buang air sembarang tempat, semua mendapat perlakuan sama.

Oke, kembali ke rumah idaman saya. Mari kita tengok bagian dalamnya. Hal pertama yang menjadi prioritas saya dalam mambangun rumah adalah kamar mandi. Sampai saat ini, kamar mandi adalah tempat bagi saya untuk membersihkan diri, dalam arti harfiah maupun kiasan. Stress, membutuhkan inspirasi, ingin ber-soliloqui, atau mau nyanyi seenak jidat, kamar mandi adalah tempat yang selalu tepat. Maka saya berniat membangun kamar mandi saya selayak mungkin. Dan kalau Anda pernah membaca blog saya tentang kolong tempat tidur, Anda pasti tahu yang saya maksud. Hal-hal tersembunyi justru menunjukkan siapa kita sebenarnya.

Ruangan-ruangan lain belum sempat terpikir. Tapi dari dulu, dalam imajinasi saya, rumah selalu memiliki pagar kayu bercat putih seperti yang selalu ada dalam drama keluarga Amerika. Dan ada trotoar di depan juga jalan raya yang tidak dilewati banyak kendaraan, agar anak saya bebas bersepeda atau main skateboard.

Hal-hal yang sudah saya tulis bisa sekali berubah, seiring waktu. Yang terpenting dulu, sebenarnya adalah mencari ’seseorang’ yang akan membuat saya selalu ingin ‘pulang’. Kalau ini, berubahpun rasanya akan membutuhkan proses yang sangat panjang. Ada yang berminat? Anyone?

Maukah Anda?

Thursday, June 21st, 2007

Thought_bubble

Maukah Anda, ketika segala sesuatu di dunia sama? Kita memiliki pemikiran yang sama, gaya yang sama, cara bicara yang sama, selera yang sama, warna kulit yang sama, tingkat kesejahteraan yang sama, panjang usia yang sama.

Tidak akan pernah ada debat dan selisih pendapat. Dan tidak ada kata ‘damai’, karena kita tidak pernah mengenal istilah perang. Dualisme terhapus dari eksistensinya.

Ah, bagi saya, dunia terlalu berat untuk berada di kepala satu orang saja!

Tentang Mengenang

Thursday, June 21st, 2007

Adalah kenangan. Sesuatu yang kita simpan. Ia bisa manis, sedih, lucu, ataupun getir. Apapun, ketika label kenangan sudah melekat, ia hanya akan membuat kita tersenyum kecil. Hingga manusia yang duduk di sebelah kita di bangku bis akan menganggap kita sinting karenanya.

Dialah Sikat Gigi. Begitu sahabat saya memanggilnya. Sampai sekarang pun sahabat saya tidak pernah tahu nama sebenarnya. Cukup Sikat Gigi. Salah satu bagian penting dalam buku kenangan saya. Yang membuat emosi meluap ketika tiba-tiba ingat, pun ketika ia sudah bernama kenangan. Karena dia, saya pernah mencecap satu rasa yang mewah, anggun, sakral sekaligus lugu. Bersama dia, saya pernah tertawa, menangis, cemberut, juga rindu. Untuk dia, saya bisa membuat sama banyak hal yang sebenarnya berbeda.

Tahun-tahun berlalu. Dan dia tak lagi ada. Tapi saya masih hidup. Berteman dengan banyak orang, menikmati suara hujan, menyesap secangkir kopi tiap pagi, olahraga, berdebat dengan orang lain, menonton film, berpelukan dengan teman ketika membutuhkan dukungan, mengisi teka teki silang dan tetap bersyukur ketika cuaca suram dan udara lembab. Banyak hal yang saya lakukan ketika bersama dia. Dan lebih banyak hal lagi yang saya lakukan ketika dia sudah tak ada.

Lagu, lukisan, artikel di koran, baju, kartu pos, secarik kertas bertuliskan email, poster, pensil usang, semua menguarkan keberadaannya di masa lalu.

Segala sesuatunya telah selesai. Hampir semua hal berubah. Melankoli nan anggun itupun tak lagi sama. Dia hanya sebuah kenangan.

nasionalisme dalam sebuah pilihan

Wednesday, June 20th, 2007

Kemarin sebelum pulang kerja, iseng-iseng saya menanyakan pada beberapa rekan kerja apa yang tiba-tiba melintas di kepala.

"lebih milih mana, antara Hillary Clinton dan Barack Obama"

Ada satu yang dengan mantap menjawab "Barack Obama". Alasannya? "Ya, biar kondisi Indonesia nanti jadi berubah".

Tak bisa diingkari, si ganteng afro-amerika ini memang punya pertalian emosi yang kuat dengan Indonesia. Dibesarkan di Indonesia, pernah punya ayah tiri orang Indonesia yang otomatis punya saudara tiri orang Indonesia juga. Melihat ekspresi teman saya ketika menjawab pertanyaan bodoh yang saya ajukan, saya melihat ada rasa cinta yang ingin diungkapkan (hayah, bahasanya!) terhadap negeri ini, meskipun negeri ini…ah, tidak usah saya sebutkan, Anda juga pasti tahu apa yang saya maksud, bukan? Jadi ingat, pertengahan tahun 90an dulu ada slogan yang terkenal banget. ACI, singkatan dari Aku Cinta Indonesia. Juga ada lagu yang dinyanyikan Cindy Cenora, yang barangkali bertujuan untuk membentuk nasionalisme anak-anak. Aku cinta rupiah, biar dollar dimana-mana. Nasionalisme, atau malah konsumerisme, hehehe…

Jam makan siang, waktu ngobrol di telpon dengan si hani, saya menanyakan pertanyaan yang sama. Hm, ternyata si hani milih Hillary Clinton, karena bebe ini memang selalu suka wanita smart nan mandiri. Nggak heran kalau dia jadi suka juga sama saya :)

Tapi begitu saya tanya soal pemilihan Gubernur Jakarta, kok dia bilang "ah, sekarang udah males". Apatis sekali, apakah ini berarti si hani tidak nasionalis?

Surprise!!!

Monday, June 18th, 2007

Kemarin, waktu pulang kampung, ada kejutan menyenangkan begitu saya sampai rumah. Meski di perjalanan saya mabuk darat (entah makan apa sampai mual-mual nggak karuan), plus niat nyumpal mulut penumpang di depan saya pake sepatu. Ups! habis ini bapak cerewet banget. Secara laki-laki kok mulutnya berlebihan, mana suaranya bikin masuk angin telinga. Gara-gara dia berdiri, dan saya duduk, kok si bapak jadi hobi banget nyindir-nyindir saya. "Enak kalau duduk bisa tidur". Yaelah Pak, saya denger atuh, semua omongan bapak. Siapa tidur, yang ada meringis, situ nggak mau kan saya muntahin sendalnya?

Saya heran deh, kanapa orang-orang seperti ini selalu ada di setiap perjalanan pulang saya. Yang berlagak menunjukkan kita jalan ke bus, tapi buntutnya nyenggol-nyenggol bahu. Saya sudah biasa berkelit kalau ada orang yang dari bentuk-bentuknya mau nyolek saya. Kemarin saya malah berkelit plus menyebut satu makian. Kata adik saya, kalau ngomong f**k itu nggak masalah, secara yang dimaki juga belum tentu ngerti. Ah, ada juga penjaja dagangan yang suka jatuh-jatuhin barang di pangkuan, dan nanti di ambil lagi. Pas mengambil, nanti posisi tangan akan diset sedemikian rupa sehingga bisa sedikit menyentuh anggota tubuh mangsa. Mulai sekarang, kelihatannya saya harus mulai melatih wajah garang di kaca, biar nggak dijadikan bulan-bulanan orang di tengah perjalanan.

Aduh, kok jadi ngelantur ceritanya. Jadi setelah sampai rumah, adik saya tercinta dan satu-satunya, menyodorkan satu kotak. Saya buka dan jreng jreng jreng…!!

Aha! Ternyata isinya VCD STAR WARS Episode III: Revenge of the Sith, salah satu film favorit saya.

Habislah waktu mudik saya untuk beberapa kali memutar ulang, hadiah yang diberikan tanpa maksud itu.

Ps: Nggak penting banget ya, diceritain?

my fave (movie) scenes

Friday, June 15th, 2007

Kadang ketika nonton film, kita menemukan beberapa adegan (atau kalimat yang diucapkan dengan ekspresi) yang menempel begitu kuat di otak (dan hati) yang bakal terus kita ingat sampai terbawa mimpi. Ini sering terjadi pada saya. Dan inilah beberapa adegan favorit saya:

- Ketika Ralph Fiennes menyentuh ceruk leher Kristin Scott Thomas dalam The English Patient. Ingat ya, ceruk leher! (What a name! Habis, nggak tau istilah yang tepat)

- Ketika Natalie Portman menyebut namanya (which is bukan nama sebenarnya) saat berkenalan dengan Jude Law di film Closer. "Alice Ayres" Begitu ia menyebutnya, dengan pemenggalan suku kata yang seksi :)

- Ketika Gwyneth Paltrow mengatakan "Finn Bell in New York" pada Ethan Hawke sehabis mereka berbagi pancuran air minum di film Great Expectations. Dia dalam setelan hijau-hijau yang merupakan warna yang mendominasi film ini.

- Ketika Russell Crowe berciuman dengan Jennifer Connelly di bawah pohon dalam A Beautiful Mind. Entah dalam bayangan saya, Russell Crowe di film itu mirip banget dengan cyber friend saya yang sekarang di Jakarta. We used to had nice topics almost everynite. Apa kabarmu? It’s been so long :) Sudah berhasil melupakan masa lalu?

- Ketika Kevin Spacey jongkok di depan Mena Suvari yang sedang berendam air kelopak bunga mawar di film American Beauty.

- Ketika Julia Roberts tersenyum, lalu terdengar lagu She-nya Elvis Costello di film Notting Hill

- Ketika Master Yoda mengatakan "Do or do not, there is no try" dalam Star Wars, lupa yang episode mana. Kelihatannya yang Episode V: The Empire Strikes Back. Nggak perlu dijelaskan kenapa, tapi semua orang menggunakan quotation ini untuk menepis keraguan, kan?

- Ketika Rennee Zellweger mengatakan "Shut up! You had me at hello!" pada Tom Cruise dalam film "Jerry McGuire". Adegan terakhir ini menginspirasi banyak orang. Sayangnya, yang diingat oleh kebanyakan orang adalah "You complete me!" yang diucapkan Tom Cruise. Well, kata tersebut juga bermakna, tapi bagi saya penekanannya tetep lebih pada ucapan Rennee setelahnya. Mood saya rada ‘ancur’ ketika ending film ini diparodikan di Extravaganza, dan Aming mengucapkannya dengan gaya lucu. I like Aming, but not in that scene! Karena dia merusak mindset saya :(

Dan masih banyak lagi. Sayangnya saya harus segera pulang. Masih ada urusan di laundry, perut sudah menginginkan makan siang, dan masih banyak hal menanti hari ini. Janji, lain kali saya akan kembali menulis scene-scene favorit saya di posting lain. So, what’s your scene? Anyone?