Archive for May, 2007

My everlasting (old) movies

Thursday, May 31st, 2007

Beberapa waktu lalu, di Musical Box (kelihatannya acaranya sudah nggak ada) edisi Movie Soundtrack, membahas tentang film-film yang nggak bikin bosen meskipun telah ditonton berkali-kali. Wah, kalau ini sih sudah pasti subyektif yah? Mungkin film itu nggak bosan kita tonton, karena dulu kita menontonnya ketika pertama kali ‘jadian’. Atau film itu jadi berkesan buat kita, karena si ‘dia’ yang merekomendasikan waktu pedekate. Hal-hal semacam ini tentunya tidak berlaku sama bagi setiap orang, kan?

Nah, saya punya beberapa film yang nggak bikin saya bosen, meskipun sudah saya tonton - katakanlah - 20 kali. Berikut daftarnya :

You’ve Got Mail

Film yang mungkin lebih dari 30 kali saya tonton. Dan selalu menangis di endingnya (padahal happy ending). Kenapa film ini? Hm…setting New York City yang tenang, yang ditampilkan dari musim ke musim mempesona saya ketika pertama kali nonton. Yang paling saya suka adalah suasana semacam ‘pasar tiban’ di musim semi (saya ingat, Sex and The City Season 5 juga ada yang pengambilan gambarnya di sini, di episode yang menampilkan Heather Graham sebagai cameo). Apalagi ya, alasan kenapa saya begitu mencintai film ini? Aktivitas pagi para pekerja di New York yang mengantri kopi di Starbuck, lalu desain display Shop Around The Corner-nya Kathleen Kelly yang homy. Ah ya, lagu-lagu soundtrack yang keren yang serasa mengiringi langkah kita ketika berjalan di udara musim gugur (stop! imajinasi saya sudah mengembara kemana-mana). Satu hal lagi, aktor dan aktrisnya. Favorit saya Tom Hanks dan si America’s sweetheart Meg Ryan. Mereka sudah bermain bareng di beberapa film dan di fim ini yang menurut saya chemistrynya begitu ‘kena’. Komentar yang tertulis di sampul VCD-nya "They should win nobel prize for chemistry"

Notting Hill

Urutan kedua, film yang dibintangi Hugh Grant dan Julia Roberts. Chris Martin ‘Coldplay’ pernah menyamakan dirinya dengan William Thacker - tokoh yang diperankan Grant dalam film ini - karena menikahi Gwyneth Paltrow. Bagian yang paling saya suka di film ini adalah beberapa scene terakhir yang menampilkan senyum lebar Julia, lalu terdengar lagu She-nya Eric Costello, lantas Grant yang kelihatan kikuk menghadiri acara Premiere. Ah, saya juga suka sekali scene waktu mereka berdua berjalan, sepulang makan malam sambil ngobrol (di hampir semua film, saya selalu suka adegan berjalan berdua di malam hari, entah kenapa). Yang paling saya ingat di film ini adalah kata-kata Grant ketika ‘ditembak’ Roberts: "I live in Notting Hill. You live in Beverly Hills. Everyone in the world knows who you are, my mother has trouble remembering my name. "

Great Expectations

Ah, luar biasa perasaan teraduk-aduk ketika menonton film ini pada adegan-adegan tertentu. Dinginnya Estella, ‘bodohnya’ Finn yang tidak bisa melihat dengan hati ketika menghadapi dewa penyelamatnya Arthur Lustig dan pahlawan masa kecilnya Joe. Yang paling saya suka adalah ketika Estella dan Finn bertemu di New York untuk pertama kali. Dengan cantiknya(dan misterius. dan menggoda), Gwyneth Paltrow berkata "Finn Bell in New York". Dan yang paling membuat saya pedih adalah kebodohan Finn melepaskan satu-satunya harapannya untuk bersama Estella. Percakapannya kira-kira seperti ini:

Estella : Walter asked me to marry him

Finn  : Why did you tell me?

Estella : I want you to say something

Pause and finally…

Finn  : Congratulations

Before Sunrise dan Before Sunset

Saya biasa menyebutnya film Before-Before. Dua-duanya disutradarai Richard Linklater, dengan jarak rilis sembilan tahun, sama seperti yang diceritakan di filmnya. Pernahkan Anda mengalami one night stand yang begitu berkesan sehingga Anda tidak bisa melupakan pasangan one nite stand ini dan meskipun telah sembilan (!) tahun tak bertemu, Anda masih ingat setiap kata yang dulu sempat tertukar? Satu malam berbanding sembilan tahun (what a life!). Dan apa yang terjadi seandainya Anda diberi kesempatan bertemu dengannya, dan kalian berdua telah masing-masing memiliki kehidupan, meskipun tak pernah melupakan satu sama lain? Saya pernah menulis lagu yang dinyanyikan Julie Delphy untuk film ini di salah satu posting. Let me sing you a waltz…..

Masih ada beberapa film berkesan yang tak akan bikin bosan meski saya sudah menonton berkali-kali, dan beberapa di antaranya jadul banget. Film keluaran tahun 80an, dengan gaya busana yang sangat 80an :) Tapi saya sudah capek ngetik, jadi nanti kapan-kapan saya tuliskan lagi.

senengnya…

Monday, May 28th, 2007

oh, finally, it’s coming….

I can’t say he or she, as far as I know, it’s it!

and finally, it’s coming…

senengnya…nggak stress lagi :)

The Shawsank Redemption

Friday, May 25th, 2007

Film yang dirilis di tahun 1994. Film yang mendapat tujuh(!) nominasi Oscar termasuk kategori Best Picture. Film yang ada di urutan nomor dua di daftar film paling bagus di imdb.com setelah The Godfather Part I. Film yang dari dulu pengen banget saya tonton. Film yang akhirnya ada di tangan saya dua minggu lalu. Film yang entah kenapa selalu tertunda untuk saya tonton. Dari belasan film yang saya pinjam, film ini yang terakhir saya tonton. Entah karena males mikir berat, atau menunggu saat yang tepat ketika saya sedang rileks-rileksnya sehingga bisa benar-benar menikmati.

Film ini sebenarnya berasal dari cerita pendek Stephen King yang judul panjangnya Rita Hayworth and Shawshank Redemption. Hanya ada beberapa perempuan yang bermain dalam film ini, itupun dalam peran yang tidak begitu penting. Pegawai bank, pelayan toko, pemilik rumah, istri tokoh utama yang menjadi korban pembunuhan, yang semuanya muncul tak lebih dari semenit. Jadi saya tidak merekomendasikan film ini untuk Anda yang mencari romance ala Gone With The Wind atau The Way We Were.

Oh, ada tiga aktris besar yang wajahnya ikut terlihat. Rita Hayworth, Marilyn Monroe dan Raquel (Welch, mungkin. Saya tak terlalu ingat, lagipula waktu dia mulai menjadi ikon,saya belum lahir). Mereka bertiga terpampang dengan seksinya di dinding sel Andy Dufresne, sang tokoh utama.

Awalnya ketika tahu ini adalah film bersetting penjara, saya pikir mungkin akan seperti menonton The Green Mile. Ternyata berbeda, sangat berbeda. Kalau Green Mile sedikit kurang masuk akal bagi saya (meski kekurang masuk akalan itu terhapus oleh sisi humanis yang juga ditampilkan dengan luar biasa), Shawshank benar-benar…apa ya kata yang tepat untuk menggambarkannya…logis. Dan humanis, tentu saja.

Saya tidak bisa menceritakan bagaimana perasaan saya ketika menontonnya. Perasaan saya mengalir (seperti ketika nonton The English Patient  dan A Beautiful Mind, tapi kali ini lebih kompleks) sepanjang saya menonton, menikmati narasi yang rapi oleh Morgan Freeman.  Saya menangis, tertawa, mengernyit, sekaligus terkejut. Sampai di tengah film, saya pikir (lagi), film ini akan berkisah tentang sosok inspirasional seperti Michelle Pfeiffer di Dangerous Minds, atau Julia Roberts di Mona Lisa Smile, atau Robin Williams di Dead Poet Society. Ternyata, ceritanya berkembang jauh sekali dari tebakan saya.

Banyak quotation yang mengena di hati, atau pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya saya kembalikan pada diri saya. Tentang harapan, tentang menghadapi kenyataan, tentang pengorbanan, tentang persahabatan.

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya  menjadi mereka yang keluar dari bui setelah puluhan tahun mereka terkurung di dalam tembok? Seperti yang dilakukan Brooks, bapak tua yang telah berada di penjara Shawshank selama 50 tahun, yang akhirnya mendapat kebebasannya. Dia menyerang salah satu rekan sepenjara agar dianggap belum layak keluar. Brooks merasa akan sulit beradaptasi dengan kehidupan di luar. Di dalam penjara, dia adalah orang penting, sementara di luar sana, ia tak akan menjadi apa-apa. Hanya seorang pria tua dengan tangan yang sudah kaku, yang pernah bersalah dan telah membayar untuk kesalahannya. Beberapa saat menikmati kebebasan, akhirnya pria tua ini memilih bunuh diri.

Mereka yang berada di dalam penjara secara spontan akan terinstitusi. Seperti yang dikatakan Morgan Freeman dalam salah satu percakapan.

"These walls are funny. First you hate ‘em, then you get used to ‘em. Enough time passes, you get so you depend on them. That’s institutionalized."

Ah, begitu film selesai, saya masih diam tak bereaksi. Seperti yang dikatakan seorang teman dalam blognya yang baru saja saya baca, setelah melihat film ini, kita akan berpikir untuk beberapa jam atau beberapa hari ke depan.

Ya, sampai detik ini saya belum berhenti memikirkannya.

hiyyy….

Monday, May 21st, 2007

Beberapa hari lalu, saya melewati jalan deket kos saya. Malam sebelumnya hujan. Hujan yang pertama turun setelah beberapa waktu. Tiba-tiba di depan ada  2 ekor cacing lagi berjalan, atau merayap, atau apa deh istilahnya untuk mereka. Hiyyy…. Anda pernah membayangkan cacing yang menggeliat-liat di tanah? Hiy… langkah saya tertahan, tak bisa maju, mundurpun kaki rasanya berat. Setelah melihat sekeliling, ternyata ada banyak lagi di sekitar saya, cacing-cacing yang sedang  sunbathing (mereka kan biasanya di dalam tanah). Hff…. saya langsung susah bernafas.

Eh, tiba-tiba ada seorang ibu lewat, dan mungkin melihat saya gemetaran berkeringat dingin, bilang ’saya juga jijik mbak. tapi sekarang memang lagi musimnya’

Aduh, ibuk, saya ini tidak cuma jijik, saya takut. TAKUT. Satu ketakutan yang orang sering bilang tidak rasional.

Dan musim? Musim duren (bukan duda keren lho), musim rambutan sih enak, tapi musim cacing? Hiy…untung nggak ada musim badut. Saya capek diledekin ‘udah gedhe kok masih takut badut’.

Such a small world, eh?

Friday, May 11th, 2007

Kejadian Pertama

Teman friendster saya menanyakan teman friendster saya yang lain.

‘dia apanya kamu?’

‘oh, adik kelas waktu SMU’

‘oo…gitu, dia kan anggota komunitasnya bla bla bla …’

‘OMG…really?’

Kejadian Kedua - tepatnya baru kemarin

Ketika blogwalking, saya membaca satu blog : love songs, anybody?

Saya rutin menjadi pembaca blog ini dari dulu. Dan dalam posting yang saya sebutkan sebelumnya, dia menceritakan pengalamannya diwawancara - dan akhirnya dimuat - oleh majalah Cita Cinta.

‘OMG…really?’ berarti yang saya baca dulu itu, dong!

Lalu saya membongkar-bongkar rak buku saya. dan voila, saya temukan dia.

Ada banyak kejadian serupa yang saya alami. Pasti hal yang sama juga sering terjadi pada Anda, kan?

Ternyata si anu yang kerja di kantor anu itu temennya si anu yang dulu satu kos sama saya.

Lho, dia sudah menikah? What?! Sama sepupunya si itu? Eh, si itu kan dulu teman kuliah saya!

Dengan bantuan teknologi, rasanya tak ada hal yang tak kita ketahui, tak ada orang yang tak kita kenal. Batas antar teritori yang berbeda kian mengabur. Ke depannya nanti, barangkali batas antar waktu pun bisa dibuat sama kaburnya. Tak ada dikotomi antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Jadi ingat, film kartun yang waktu kecil sering saya tonton, Time Quest. Untuk Anda yang tak menyukai anime, masih banyak referensi lain yang menceritakan hal serupa, tentang perpindahan waktu.

Semua orang tahu siapa itu George W. Bush, Albert Einstein, Stephen Hawkings, J.K. Rowling, Mick Jagger, Paris Hilton. Bahkan ketika saya mengetik di google nama pria yang dulu pernah tiga kali kencan dengan saya, ada lebih dari 400 hasil pencarian. Tapi dia memang somebody :)

Satu hal yang membahagiakan, kita mengabaikan penggolongan manusia berdasarkan darimana dia berasal.

Hah,kawin sama  bule? Pantes tajir, mobilnya ganti-ganti gitu.

Begitu mendengar kata Afrika, yang terbayang dalam benak kita bukan lagi kata ‘lapar’ (meskipun sebenarnya fenomena itu masih ada). Lihatlah beberapa yang mewakili benua hitam melenggang di runway dunia. Iman, Waris Dirie, Alek Wek. Barangkali mereka masih ‘nyaris telanjang’, tapi telanjangnya a la Oscar de la Renta atau Dior.

Apakah Anda merasakan hal yang sama dengan saya. Dunia semakin sempit saja, ya? Dan ini berarti kemudahan akses kemanapun. Tidak harus menunggu berbulan-bulan terombang-ambing di lautan hanya untuk naik haji. Kangen sama pacar yang berada di negara lain - atau kota lain ;p - tinggal chatting, hilang deh kangennya.

Such a small world, eh?

stop searching for a better one

Thursday, May 10th, 2007

Beberapa hari lalu saya menonton reality show di televisi. Entah apa namanya, tapi isinya tentang cewek yang pengen memberi ujian kepada pacarnya, dengan memberinya umpan berupa cewek lain. Yang lebih cantik, lebih seksi dan karena berperan sebagai umpan, tentu saja dia agresif. Kelihatannya hubungan pasangan ini memang telah bermasalah sebelumnya. Dan kelihatannya lagi, hanya satu pihak yang menyadarinya. Si cewek.

Saya jadi ingat, dulu teman saya punya ide untuk mengikutkan dirinya dalam acara tersebut. Teman saya ini telah berhubungan dengan pacarnya selama kurang lebih dua tahun. Dan tak pernah ada permasalahan yang berarti. Dia hanya ingin melihat apakah ketika ada cewek lain yang notabene lebih cantik mendekat, pacarnya tetap akan mengakui keberadaannya dan bilang pada si penggoda "Stop! I’m no longer available"

Dan bukan bermaksud pesimis kalau saya mengatakan padanya secara langsung bahwa yang akan terjadi kemungkinan besar bukan yang dia harapkan.

Saya lantas membalikkan situasi tersebut padanya. Seandainya dia sedang lari pagi di lapangan, atau ngopi di kafe, tiba-tiba ada cowok georgeous mendekat dan memperkenalkan diri, apakah dia juga akan mengatakan hal yang sama? Dia tersenyum dan menggeleng. Dan saya berharap, mudah-mudahan hal ini membuatnya mengurungkan niat untuik mendaftarkan diri.

Sekali lagi saya tidak bermaksud untuk pesimis.

Ada banyak hal di dalam fenomena reality show ini. Kalau si cewek menyadari bahwa hubungan sudah di ujung tanduk, kenapa malah memperburuk keadaan dengan memberi kesempatan pada si cowok untuk ngelaba? Dan ketika melihat si cowok berhaha hihi dengan ‘umpan’, bukankah dia akan merasa lebih sakit hati? Memang ada kemungkinan cowoknya bersikap dingin-dingin saja dengan penggoda, tapi persentasenya kecil sekali.

Ini juga bukan berarti saya mendiskreditkan kaum adam ya, hanya saja, hampir tak ada cowok yang akan mendaftarkan diri untuk mengerjai ceweknya di reality show sejenis. Laki-laki biasanya memiliki tekanan yang lebih kecil ketika menjalin hubungan, mereka rata-rata lebih santai dalam memaknai hubungan. Tapi ketika mereka sadar ada satu ketidakberesan, hanya akan ada dua pilihan. Mereka akan keluar dan tak mau tau, atau menyelesaikannya dengan terbuka. Tidak dengan sembunyi-sembunyi mengerjai seperti fenomena reality show. Berbeda dengan perempuan, yang biasanya - kalau Anda membaca, tolong berikan penekanan lebih pada kata biasanya -  mengamati setiap detail kejadian, dan berusaha membuat penafsirannya. Mereka menganggap ada maksud di balik setiap tindakan. Lantas reality show dianggap sebagai jalan keluar. Pada saat itu, kondisi emosional biasanya berada pada titik antara bingung, tapi tak mau putus. Sakit hati tapi masih ingin mempertahankan. Saya perempuan, dan begitulah biasanya kami.

Satu hal lagi yang saya lihat dari kejadian semacam ini.

Tidak peduli rentang durasi sebuah hubungan, ada kecenderungan bahwa orang selalu tak pernah merasa cukup. Mungkin saya bisa menjelaskan dengan istilah yang lebih baik. We always search for a better one!

Tidak peduli apakah itu tiga bulan atau lima tahun, ketika ada yang lebih ‘kinclong’ datang, kita pasti akan membuka diri. Dan memang tak ada salahnya sekedar berkenalan, bukan? Barangkali ini memiliki kaitan dengan tulisan saya sebelumnya, bahwa appearance does matter. Kalaupun akhirnya nggak nyambung di banyak hal, barulah kita sadar. Apa yang telah kita punya ternyata tetap yang terbaik.

Dan lagi, kalau dalam hidup kita ingin mencari dan terus mencari yang lebih baik, rasanya kita tak akan pernah selesai. Mungkin kalau kita mau sedikit peduli pada suara hati, kita akan mendengar dia akan memberitahu kita pada suatu saat yang tepat, kita harus berhenti. Karena yang lebih baik lagi tidak akan pernah datang. This one is the best :)

Why do I love Jogja

Thursday, May 10th, 2007

Kalau dihitung-hitung, saya sudah jadi warga Jogja selama hampir tujuh tahun. Dan dalam waktu selama itu, tercatat baru dua kali pindah kos. Yang terakhir sekarang, baru saya tempati 4 bulan, itupun karena jadwal baru dari kantor yang mengharuskan saya datang jam setengah lima setiap harinya. Tempat kos sebelumnya sangat nyaman, meskipun ibu kosnya mata duitan (sorry…saya berani menulis ini, karena tak satupun di antara ketiga anaknya yang punya hobi blogwalking :p). Saya bertahan selama hampir enam tahun di tempat yang bagi saya homy tersebut. Yang paling bikin saya gerah adalah tempat kos pertama saya. Ibu kosnya galak, tempatnya kurang bersih, tak bisa pulang malam dan sederet alasan lain yang bikin saya tak betah, lantas keluar.

Beberapa waktu lalu, seseorang menginginkan saya pindah ke Jakarta (you know who you are!), kuliah di sana, kerja di sana. Sebenarnya saya ingin sudah sejak lama. Tapi pindah domisili ke kota lain tidak sama dengan membeli pisang goreng (apa hubungannya coba?!) Yang jelas, not that easy. Malam-malam, ketika duduk di boncengan teman saya, melewati lampu-lampu dari toko, swalayan, butik, salon, atau entah apa, saya jadi merenung.

Ada banyak alasan untuk tidak menyukai Jogja. Kotanya terlalu kecil, sehingga bisa dikelilingi dengan motor hanya dalam waktu setengah jam (bukan data statistik yang akurat, soalnya belum pernah nyoba. Tertarik?) Dan seperti Jakarta yang jalanannya padat mobil, Jogja memiliki jalanan yang padat motor (Harusnya slogannya diganti : Jogja Berhati Motor ;p) atau tidak adanya transportasi umum selepas jam enam sore. Tidak seperti Bandung yang selama 24 jam kita bisa mengakses kendaraan umum ke tujuan manapun, meskipun rata-rata sopirnya doyan ngebut.

Ah, kok jadi kangen Bandung. Ingat-ingat Bandung, jadi ingat satu hal lagi yang membuat Jogja terasa tidak menyenangkan. Kalau siang, puanasnya minta ampun. Entah apa mungkin karena isu pemanasan global sedang santer, belakangan hawanya jadi lebih panas dibanding hari-hari biasa. Mengakibatkan pemborosan yang sebenarnya tak perlu untuk membeli sunblock.

Di luar hal-hal yang sudah saya sebut tadi, sungguh, Jogja adalah kota yang luar biasa nyaman. Semua pasti setuju, kan?

Ada banyak hal yang membuat kita menafikan segala ketidaknyamanan dari tinggal di Jogja. Berikut beberapa alasan, kenapa tinggal di Jogja begitu menyenangkan, setidaknya buat saya.

Keramahan penduduknya. Bahkan berlainan RT pun saling kenal.

Biaya hidup yang relatif murah. Meskipun ini membuat standar gaji juga kecil ;p

Komunitas-komunitas independen yang bebas beraktifitas di setiap sudut kota. Menyenangkan bukan, melihat orang-orang begitu tenggelam dalam dunianya?

Tempat kopi bisa ditemukan dimanapun. Dari yang paling mahal sampai yang paling murah, yang ber-AC di jalan masuk ke gang sampai yang bertikar di pinggir jalan besar,  dari yang di atas toko buku sampai di atas sungai, semua ada. Kapan nih, giliran Starbuck?

Dan satu hal lagi. Kapanpun, jam berapapun perut kita terasa melilit, atau mendadak mulut kumat ingin mengunyah, kita selalu menemukan orang berjualan makanan.

Di luar alasan-alasan masuk akal tersebut, biasanya terselip alasan tak masuk akal juga. Jika kita telah berbicara tentang romantisme atau melankolia, memang rasanya itu menjadi hal yang tak terbantahkan. Banyak kan, yang tinggal di Jogja dengan alasan-alasan tak rasional itu? Itulah sebabnya, KLA Project menciptakan lagu yang melegenda, YOGYAKARTA.

Meskipun tak sedikit juga yang telah pindah, memilih untuk menetap di kota lain, tapi saya yakin, pasti mereka ingin kembali satu saat nanti. Dan setiap kali lagu itu diperdengarkan, rasanya hati akan diserbu sejuta melankoli. Barangkali saya akan merasakannya sebentar lagi.

…..

pulang ke kotamu,

ada setangkup haru dalam rindu

masih seperti dulu

tiap sudut menyapaku bersahabat

penuh selaksa makna

……