Archive for April, 2007

Let me sing you a waltz

Monday, April 30th, 2007

Let me sing you a waltz

Out of nowhere, out of my thoughts

Let me sing you a waltz

About this one night stand

You were, for me, that night

Everything I always dreamt of in life

But now you’re gone

You are far gone

All the way to your island of rain

It was for you just a one night thing

But you were much more to me, just so you know

I don’t care what they say

I know what you meant for me that day

I just want another try, I just want another night

Even if it doesn’t seem quite right

You meant for me much more than anyone I’ve met before

One single night with you, little Jesse, is worth a thousand with anybody

I have no bitterness, my sweet

I’ll never forget this one night thing

Even tomorrow in other arms, my heart will stay yours until I die

Let me sing you a waltz

Out of nowhere, out of my blues

Let me sing you a waltz

About this lovely one night stand

"Quotes from ‘Before Sunset’"

Ada seseorang yang menginginkan saya terus menulis. Tapi memang menulis tidak mudah, terutama untuk orang yang moody seperti saya. Harus menunggu hati terbuka, untuk membaca apa yang terjadi. Kadang hati memang terbuka, tapi tangan enggan bekerja. Intinya, untuk menulis, diperlukan koordinasi semua anggota tubuh, termasuk di dalamnya adalah perasaan.

Tapi karena dia sudah mulai protes ( you know who you are!), akhirnya saya mengambil tulisan dari jurnal saya.

Ini adalah memorable quote dari salah satu film favorit saya, Before Sunset. Film ini merupakan sekuel dari film yang dirilis 9 tahun sebelumnya, Before Sunrise. Keduanya berisi tanda tanya. Barangkali inilah yang menyebabkan sutradara Richard Linklater memutuskan untuk membuat sekuel.

Tapi film kedua lebih mengena di hati saya. Entah, barangkali karena ada pertanyaan ‘kenapa’ yang lebih mendalam maknanya. Atau karena film itu membuat saya berandai-andai.

…should I, would I, Could I….

inspeksi kolong

Tuesday, April 10th, 2007

Berapa minggu, atau bulan, atau tahun sekali kita melongok ke bawah tempat tidur? Nyaris tak pernah barangkali. Bagi saya, hal ini berkaitan dengan keengganan manusia untuk melihat diri sendiri lebih dalam. Kolong tempat tidur adalah tempat yang paling dekat dengan kita sekaligus paling sering kita abaikan keberadaannya. Letaknya tersembunyi, karena ia memuat hal-hal yang mencerminkan diri kita, yang tak kita inginkan untuk dilihat orang lain.

Saya tidak sedang berusaha mendramatisir. Mungkin banyak juga orang seperti saya, menganggap tempat tidur adalah pusat dari sebuah kamar - terutama kalau kita tinggal di rumah kost - sehingga kita sering merasa sah-sah saja untuk melakukan nyaris semua hal di atasnya. Saya biasa membaca, menulis, memotong kuku, melamun, menyesap teh jeruk nipis, menyisir rambut, berdandan, dan masih banyak lagi hal yang saya lakukan di atas kasur. Selain empuk, saya memandang ini sebagai hal yang praktis karena ketika lelah, saya bisa langsung berbaring dan terlelap.

Tanpa sadar, beberapa barang saya menggelinding dan terjatuh di kolong. Saya akan bangun keesokan paginya, merasa kehilangan, mencarinya sebentar, lantas melupakan kalau saya pernah memiliki barang tersebut. Itulah alasan kenapa bagi saya, tempat tidur begitu mencerminkan seperti apa, sosok yang bisa tinggal di atasnya. Bisa dibilang, ia berisi hal-hal yang, katakanlah, semacam memorabilia bagi pemiliknya.

Semalam, ketika teringat pensil sahabat saya yang jatuh sewaktu saya tidur, saya iseng-iseng melongok ‘kotak pandora’ saya, dan inilah beberapa benda yang saya temukan.

- Tentu saja pensil sahabat saya.

- Banyak sekali ikat rambut. Di antaranya yang berwarna ungu, pink dan baby blue. Sudah lama sebenarnya saya penasaran, kemana perginya mereka.

- Jepit bebek. Sebelumnya saya hanya punya satu, praktis untuk mengangkat poni yang menutupi dahi. Saya sempat merasa kehilangan beberapa hari, tapi lantas menyerah. Tapi setiap kali ada kesempatan berbelanja, saya tak pernah membelinya lagi. Karena kadang memang manusia melupakan hal penting, hanya karena ia kecil.

- Potongan melintang jeruk nipis. Pasti terjatuh dari cangkir teh saya. Bentuknya sudah… ah, tak usah dikatakan saja! Tapi kok bisa ya? Begini, ketika orang lain mengenal kita sebagai orang yang tahu beberapa hal, itu tidak lantas menjadikan kita sebagai si serba tahu, kan? Sama halnya ketika orang lain mengenal saya sebagai si rapi, si teratur dan si penjaga kebersihan, bukan berarti saya tak pernah melakukan hal jorok.

- Majalah Cita Cinta, dengan Sausan sebagai covernya.

- Buku "Malaikat Salju", hadiah dari sahabat saya yang suka pamer. Karena buku itu ditulis olehnya (you know who you are!). Maaf, mahakarya kamu tergeletak merana di kolongku, tapi sekarang sudah dievakuasi dan ada di tempat semestinya.

Saya menelpon sahabat saya, si pemilik pensil. Dan dia bilang, "Hun, congratulation! You found your treasure".

Apakah ini salah satu hal yang perlu diberi ucapan selamat, saya tak tahu. Hanya memang, saya mendapatkan kepuasan kecil yang akan selalu saya ingat, dan mengingatkan saya untuk lebih sering melirik ke bawah. Hm… ada yang mau mengikuti jejak saya, berburu harta karun Anda sendiri?