Archive for March, 2007

some idiots say ‘don’t judge book by it’s cover’, but people do!

Wednesday, March 14th, 2007

Ini berawal dari perdebatan saya dengan beberapa kawan di sela-sela waktu makan siang di kantor. Beberapa teman berkata bahwa tak adil bila kita mempersepsikan pikiran hanya berdasar bentuk luaran saja. Saya tak setuju. Bagi saya, itu utopis. Kesan pertama adalah apa yang terlihat, yang berarti the cover itself. Berhubung saya sendirian melawan beberapa orang, lantas saya menghimpun pendapat-pendapat dari teman lain di luar kesempatan tersebut.

Salah satu alasan dari teman yang setuju dengan saya adalah ‘Wah, kalau kita tak boleh menilai cover, nggak bakal ada pekerjaan illustrator, dong!’

Ah, menurut saya, itu alasan yang terlalu harfiah. Wajar sih, kalau mengingat pekerjaan sampingannya sebagai illustrator dan hobby utamanya sebagai fotografer. Segala sesuatunya visual bagi dia.

Untuk saya pribadi, ada banyak alasan kenapa saya berpendapat bahwa             orang - sadar ataupun tidak - menilai orang lain berdasar bentuk luaran.

Pertama kali menjumpai sosok tak dikenal, organ tubuh yang pertama berfungsi adalah mata yang  kemudian mengirimkan file berisi bentuk makhluk di hadapan kita menuju otak. Otak memutuskan, apakah makhluk/sosok/orang di depan kita ini menarik, seram, atau justru menjijikkan. Baru sesudahnya, otak mengirim sinyal ke seluruh organ untuk berbahasa tubuh mengikuti impresi yang sudah terbentuk itu. Maaf, meskipu sebenarnya bisa dijelaskan lebih halus lagi dan tidak melulu teknis seperti paparan saya tadi, tapi ya, kira-kira begitulah. 

Mata, seperti kita tahu, memiliki keterbatasan penangkapan. Hanya mampu merekam yang tampak saja. Jadi detik pertama kita melihat sosok asing, komentar-komentar semacam inilah yang ada di otak kita : cantik, ganteng, mancung, maskulin, jorok, chubby, bajunya kedodoran, chic, edgy, bla bla bla

Tapi ini hanya berlangsung sementara. Ketika interaksi dengan si sosok asing telah berjalan jauh, maka opini awal tadi pun bergeser. "badan berotot gitu, suaranya cempreng, yak!"  atau  "tampangnya sih nggak cantik-cantik banget, tapi kalau senyum enak diliat, ih, lucu!"

Bisa jadi yang tadinya tertarik jadi jijik, ataupun sebaliknya.

Kesimpulannya, bagi saya, detik pertama selalu berkaitan dengan fisik. Berikutnya, ketika banyak hal lain ikut terlibat, seringkali ada yang tak bisa dijelaskan dengan logika.

The other side of Starbucks

Sunday, March 11th, 2007

The whole purpose of places like Starbucks is for people with no decision-making ability whatsoever to make six decisions just to buy one cup of coffee. Short, tall, light, dark, caf, decaf, low-fat, non-fat, etc. So people who don’t know what the hell they’re doing or who on earth they are can, for only $2.95, get not just a cup of coffee but an absolutely defining sense of self: Tall. Decaf. Cappuccino.

Tom Hanks - You’ve Got Mail