valentine haram?
Monday, February 19th, 2007Itu bukan pernyataan saya. Siapakah
saya sehingga layak mengharamkan
sesuatu? Saya hanya melihat sekilas di
berita sore salah satu stasiun televisi
kemarin, tepat tanggal 14 februari.
Tulisan itu akhirnya mampu menyeret
saya untuk mengikuti isi berita.
Sekelompok anak usia sekolah dasar
beramai-ramai melakukan demo menentang
hari valentine, dan kalau tidak salah
dengar, acara itu dikoordinir oleh sang
guru.
Saya jadi merasa sedih. Saya memang
tidak memperingati hari kasih sayang
dengan perayaan khusus. Tapi saya juga
tidak mengecam sekelompok orang yang
merasa bahwa valentine adalah satu hari
spesial dan merasa perlu untuk
merayakannya. Entah dengan menyiapkan
kado, atau sekedar mengucapkan "I love
you".
Bagi saya, tak ada yang salah dengan
hari valentine. Valentine tidak
memperingati manusia yang membunuh
manusia lainnya, valentine tidak
merayakan kekerasan, penindasan dan
kekejaman. Malah mungkin dengan
valentine, orang yang sebelumnya pemalu
jadi memiliki dorongan untuk
mengungkapkan perasaan yang sudah
terlalu lama disimpan. Orang yang
biasanya cuek bisa tiba-tiba berubah
ekspresif.
Terlepas dari konteks historisnya (yang
membuat saya bingung, karena muncul
dalam beberapa versi), saat ini
valentine juga telah menjadi komoditas
kapitalisme. Tapi tetap saja, itu tidak
lantas menjadikannya layak menuai
kecaman.
Kalau boleh beropini, bagi saya tanggal
14 februari sama seperti 1 januari,
hanya saja tidak tercetak merah di
kalender. Kita boleh berpesta menyambut
datangnya tahun baru, tapi tak salah
juga kalau cuma ingin berdiam di rumah,
menonton televisi lantas tidur. Ini
hanya soal pilihan.
Lalu apa yang membuat saya sedih?
Adalah anak-anak itu, yang barangkali
belum cukup umur untuk mengerti apa
yang dilakukannya. Bukankah mereka
seharusnya bermain petak umpet, lompat
tali atau scramble? Mereka mungkin
bertengkar, mungkin memiliki perasaan
iri, tapi hanya karena rumah lego yang
satu lebih megah dibanding yang lain.
Apa jadinya mereka ketika dewasa nanti,
kalau dalam usia mereka yang sekarang,
sudah diajarkan untuk mengkotak-
kotakkan sesuatu. Saya berdoa, mudah-
mudahan hal-hal yang mereka lalui ke
depan nanti akan menetralisasi apa yang
ada dalam pikiran mereka saat ini.
Karena saya tak memuja ataupun antipati
pada hari kasih sayang, saya hanya
ngeri pada kebencian.