Hari minggu ini, saya dapat siaran menggantikan seorang rekan yang harus mudik dalam rangka merayakan natal. Totally alone di kantor yang lumayan gedhe ini, tak ada teman bicara satupun. Lantas saya memutuskan untuk membuat kopi. Ketika tengah meracik kopi kesukaan saya, tiba-tiba saya teringat satu hal. Saya tak menemukan istilah yang tepat, tapi saya sebut saja konservatifitas.
Maksudnya begini. Kadang kita ditawari banyak pilihan dalam hidup ini. Untuk satu hal yang kita pakai, misalnya untuk shampoo ataupun lotion saja, ada beberapa merek yang semua jor-joran memamerkan keunggulan dan kelebihannya melalui media. Kita sebagai konsumen sering dibuat linglung ketika harus menentukan pilihan. Enam kali mengelilingi supermarket hanya untuk memilih sabun mandi yang kita anggap sesuai setelah melewati pertimbangan-pertimbangan tertentu. Familiernya merek - agar tidak malu kalau ditanya teman -, kandungan-kandungan yang kita anggap cocok untuk kulit, juga pertimbangan budget tentunya.
Pernah nggak sih, begitu melihat iklan di televisi yang begitu meyakinkan, kita lantas tergiur untuk mencoba? Pelembab wajah, misalnya. Selama ini kita setia menggunakan satu merek yang memang teruji pas buat kulit kita, tapi tiba-tiba ada produk baru yang muncul di televisi. Dengan kemasan yang lebih luxurious, bintang iklan yang lebih cling, yakkkiiin, kita nggak akan berpaling??
Mungkin ada juga di antara Anda yang tetap setia dengan merek lama. Nah, ini yang saya maksud dengan konservatifitas (mohon maaf apabila istilah dan penulisannya keliru).
Kenapa rupanya kata-kata ini melintas di kepala saya? Sembari mengaduk kopi, saya teringat buku yang barusan saya baca. Edisi kedua dari Indiana Chronicle, yang berjudul Lipstick. Sebuah novel metropop karya Clara Ng. Indiana bersama dengan Sara, sepupunya, diceritakan sedang memilih lipstik di sebuah konter kosmetik. Ketika Indiana berkhayal menciptakan trend lipstik warna biru dan hijau, Sara berkata,”Kalau menyangkut warna lipstik, aku sangat konservatif”.
Andakah orang yang seperti Sara? Konservatif pada satu merek tertentu? Pada satu item tertentu? Menurut saya, setiap kita memiliki bagian konservatifitas tersendiri. Kalau Sara dalam memilih warna lipstik, ada lagi satu tokoh dari novel lain yang saya baca yang konservatif dalam memilih es krim. Dia selalu menjelajahi etalase sambil menggumamkan nama-nama es krim yang unik dan eksotis. Tapi selalu, Pilihan akhirnya adalah es krim rasa walnut maple.
Saya juga konservatif, dalam memilih beberapa hal. Salah satunya adalah kopi. Ada semakin banyak jenis kopi instan yang beredar di pasaran. Mochaccino, Capuccino, Coffeemix dan puluhan lainnya. Tapi kalau ditanya, mana yang paling menjadi favorit saya, tak lain adalah Nescafè classic. Satu setengah sendok teh, plus satu sendok teh gula, tanpa krim. Hmm… aromanya menggugah semangat saya setiap pagi. Rasanya memang sedikit pahit, tapi ampuh untuk mengusir kantuk.
Meski saya bisa mengatakan saya konservatif dalam memilih kopi, tapi tak bisa menyangkal juga saya sering tertarik dengan yang di luar pilihan saya. Pernah juga sih, mencoba satu dua kali.
Nah, kalau konservatifitas ini dikaitkan dengan pemilihan pasangan, apakah bisa seseorang yang tidak konservatif dalam memilih barang atau dengan kata lain suka berganti merek identik dengan tukang selingkuh? Wah, kalau saya yang suka mencoba-coba, berarti…
Lho, kok pembicaraannya sampai ke selingkuh segala?! Ngomongin selingkuh, nanti ujung-ujungnya pasti membahas poligami. Bosen, ah!