Archive for December, 2006

the most unique creature

Sunday, December 31st, 2006

Tidak pernah terlintas untuk menjadi narsis, tapi ketika mendengar pendapat teman-teman mengenai saya, mau tidak mau saya berpikir juga. Saya jadi beranggapan - sekali lagi, ini karena mendengar pendapat khayalak, ya? - bahwa saya adalah makhluk paling unik di dunia ini. Yang mengamati dan menceritakan sesuatu dengan detail, yang memiliki ingatan tajam sehingga mampu menampung repihan-repihan yang terlupakan oleh orang lain. Yang tahu benar apa yang disuka, sehingga tanpa ragu mengisi interest di profile friendster ini dengan hal-hal yang benar-benar menarik perhatian, seperti aroma tanah basah sehabis hujan pertama turun atau gedung bioskop tua. Nah, memang unik, kan?

Tapi itu dulu. Sampai akhirnya saya bertemu - di dunia maya tentu - dengan seseorang yang memiliki interest sama. Baru saya sadar, ternyata narsis juga ya, saya selama ini? Kejadian tersebut merekonstruksi pikiran saya, bahwa semua orang adalah the most unique creature, dengan caranya masing-masing.

Untuk abang yang menyukai hal-hal yang sama dengan saya, saya ucapkan ‘Welcome to the Club!’ Mungkin kita bisa mengajukan proposal program televisi ‘Wisata Sinema’, siapa tahu bisa mengalahkan ‘Wisata Kuliner’-nya Bondan Winarno, hehehe :)

kenapa… (II)

Saturday, December 30th, 2006

kenapa…

perasaan begitu nyaman

hanya ada ketika bersamamu

kenapa?

Monday, December 25th, 2006

kenapa?

jika tentang kamu,

waktu pun tak pernah kuasa menunggu…

kang kung kang kung

Sunday, December 24th, 2006

kang kung kang kung

kang kung kang kung

bukan sayur, ya? tapi bunyi kodok ketika hujan. saya lupa kapan terakhir kalinya mendengar melodi merdu ini. Mengingatkan saya pada rumah nenek, tempat berkumpul dengan para sepupu setiap hari libur, yang memang dekat dengan persawahan.

Enam tahun tinggal di jogja, kok jarang ya, mendengar kodok berbunyi kang kung? memang tak ada kodok, atau ada tapi mereka bisu?

nah, tanda tanya ini terjawab ketika kemarin sore saya pulang siaran. di selokan depan kantor memang ada genangan air sehabis hujan deras. di situlah saya mendengar kembali suara kodok saling bersahutan merayakan hujan.

saya sempat berhenti sejenak, sebelum akhirnya pulang karena hari sudah mulai gelap. dan karena orang-orang di jalan mulai melihat saya dengan tatapan aneh

konservatifitas

Sunday, December 24th, 2006

Hari minggu ini, saya dapat siaran menggantikan seorang rekan yang harus mudik dalam rangka merayakan natal. Totally alone di kantor yang lumayan gedhe ini, tak ada teman bicara satupun. Lantas saya memutuskan untuk membuat kopi. Ketika tengah meracik kopi kesukaan saya, tiba-tiba saya teringat satu hal. Saya tak menemukan istilah yang tepat, tapi saya sebut saja konservatifitas.
Maksudnya begini. Kadang kita ditawari banyak pilihan dalam hidup ini. Untuk satu hal yang kita pakai, misalnya untuk shampoo ataupun lotion saja, ada beberapa merek yang semua jor-joran memamerkan keunggulan dan kelebihannya melalui media. Kita sebagai konsumen sering dibuat linglung ketika harus menentukan pilihan. Enam kali mengelilingi supermarket hanya untuk memilih sabun mandi yang kita anggap sesuai setelah melewati pertimbangan-pertimbangan tertentu. Familiernya merek - agar tidak malu kalau ditanya teman -, kandungan-kandungan yang kita anggap cocok untuk kulit, juga pertimbangan budget tentunya.
Pernah nggak sih, begitu melihat iklan di televisi yang begitu meyakinkan, kita lantas tergiur untuk mencoba? Pelembab wajah, misalnya. Selama ini kita setia menggunakan satu merek yang memang teruji pas buat kulit kita, tapi tiba-tiba ada produk baru yang muncul di televisi. Dengan kemasan yang lebih luxurious, bintang iklan yang lebih cling, yakkkiiin, kita nggak akan berpaling??
Mungkin ada juga di antara Anda yang tetap setia dengan merek lama. Nah, ini yang saya maksud dengan konservatifitas (mohon maaf apabila istilah dan penulisannya keliru).
Kenapa rupanya kata-kata ini melintas di kepala saya? Sembari mengaduk kopi, saya teringat buku yang barusan saya baca. Edisi kedua dari Indiana Chronicle, yang berjudul Lipstick. Sebuah novel metropop karya Clara Ng. Indiana bersama dengan Sara, sepupunya, diceritakan sedang memilih lipstik di sebuah konter kosmetik. Ketika Indiana berkhayal menciptakan trend lipstik warna biru dan hijau, Sara berkata,”Kalau menyangkut warna lipstik, aku sangat konservatif”.
Andakah orang yang seperti Sara? Konservatif pada satu merek tertentu? Pada satu item tertentu? Menurut saya, setiap kita memiliki bagian konservatifitas tersendiri. Kalau Sara dalam memilih warna lipstik, ada lagi satu tokoh dari novel lain yang saya baca yang konservatif dalam memilih es krim. Dia selalu menjelajahi etalase sambil menggumamkan nama-nama es krim yang unik dan eksotis. Tapi selalu, Pilihan akhirnya adalah es krim rasa walnut maple.
Saya juga konservatif, dalam memilih beberapa hal. Salah satunya adalah kopi. Ada semakin banyak jenis kopi instan yang beredar di pasaran. Mochaccino, Capuccino, Coffeemix dan puluhan lainnya. Tapi kalau ditanya, mana yang paling menjadi favorit saya, tak lain adalah Nescafè classic. Satu setengah sendok teh, plus satu sendok teh gula, tanpa krim. Hmm… aromanya menggugah semangat saya setiap pagi. Rasanya memang sedikit pahit, tapi ampuh untuk mengusir kantuk.
Meski saya bisa mengatakan saya konservatif dalam memilih kopi, tapi tak bisa menyangkal juga saya sering tertarik dengan yang di luar pilihan saya. Pernah juga sih, mencoba satu dua kali.
Nah, kalau konservatifitas ini dikaitkan dengan pemilihan pasangan, apakah bisa seseorang yang tidak konservatif dalam memilih barang atau dengan kata lain suka berganti merek identik dengan tukang selingkuh? Wah, kalau saya yang suka mencoba-coba, berarti…
Lho, kok pembicaraannya sampai ke selingkuh segala?! Ngomongin selingkuh, nanti ujung-ujungnya pasti membahas poligami. Bosen, ah!