Archive for November, 2006

Memang menyebalkan, tapi mau bagaimana lagi?

Friday, November 3rd, 2006

Pernahkah merasa sebal dengan teman sendiri, tapi selalu menutupinya?

Saya punya seorang teman yang cukup dekat. Kami punya kesamaan hobi, pemikiran dan cara memandang hidup. Menyenangkan ya, kedengarannya? Kami bisa berbagi tentang banyak hal. Pinjam meminjam barang, sampai saling curhat tengah malam.

Tapi ada satu lagi persamaan kami yang belakangan terasa mengganggu. Persamaan karakter. Kami berdua sama-sama kolerik, punya sifat mendominasi yang kuat. Inilah yang menyebabkan keretakan itu.

Dia seolah selalu tahu apa yang terbaik buat saya, dan mengatakan banyak hal-hal menyakitkan kuping secara frontal, tak peduli bagaimana perasaan saya waktu itu. Ketika saya melakukan satu hal, dia selalu bercerita bahwa dia pernah melakukan hal itu, dan dia melakukannya lebih baik. Tidak mau kalah dalam satu perdebatan. Intinya, dia selalu menginginkan lebih. Mungkin jika saya ‘nyemplung sumur’, dia akan mencari sumur yang lebih dalam untuk dicemplungi.

Saya gerah. Lebih gerah lagi ketika saya sadar ternyata saya punya satu hal yang lebih dibandingkan dia, yaitu rasa sungkan. Saya sungkan untuk melanjutkan perdebatan tentang hal-hal sepele yang pasti tidak akan pernah selesai, misal nama belakang selebriti. Toh, orang yang dibicarakan mungkin sedang menikmati sauna di Timbuktu.

Apakah saya benci padanya? Sama sekali tidak! Perasaan saya lebih cenderung ke heran, sebenarnya apa sih masalahnya, sampai dia mengerahkan segala usaha untuk menunjukkan eksistensinya di depan saya.

Tapi dalam perjalanan pulang ke rumah, saya merenung, mengingat-ingat hal yang pernah kami lewati bersama. Barangkali tak ada buruknya kalau saya yang lebih dulu menyadari ada hal tak beres dalam hubungan kami, sedikit lebih menahan diri. Paling efeknya, saya akan merasa ‘gondok’, dan ketika saya sudah menumpahkan gondok itu pada orang rumah, perasaan itu hilang begitu saja.

Dan satu hal! Kalau kita ingat pepatah lama yang sungguh klise yang mengatakan bahwa tidak semua hal yang kita inginkan akan kita dapatkan. Dalam hal ini, hubungan harmonis, saling memberi dan menerima tanpa ada keinginan untuk menang - karena ini memang bukan kompetisi - belum berhasil saya dapatkan. Mungkin butuh waktu, ya?

Last but not least, saya ingin mengutip perkataan salah seorang sahabat saya yang pendiam, tapi sekali bicara kita selalu bisa merasakan kebenarannya. "Untuk alasan yang tidak kita ketahui, perang memang harus ada".

Tumben…

Wednesday, November 1st, 2006

"Tumben gak pakai celana," gitu komentar my boss Mr. B waktu kami berpapasan lagi untuk kesekian kalinya. Wah, perhatian juga ya, kata saya dalam hati. Ya, kemarin memang pertama kalinya saya memakai rok ke kantor setelah hampir satu tahun bekerja.

Rok terusan hitam cantik dengan kerah memanjang, hampir seperti Giorgio Armani. Punya mama saya. Karena dress tanpa lengan, maka saya memakai dalaman putih dengan frills. Chic, begitu kesan saya ketika menatap cermin.

Rasanya sedikit ribet sih, ketika duduk. Tapi senang juga karena banyak yang memberikan tatapan kedua dalam perjalanan saya menuju kantor.

Dalam satu artikel saya pernah membaca, bahwa salah satu cara untuk membahagiakan diri sendiri adalah dengan mengenakan busana yang berbeda dari yang biasa kita pakai. Dan, terbukti efeknya memang luar biasa pada saya. Penampilan berbeda bisa membangun mood yang bagus di pagi hari.

Tapi, kalau melihat dari efek yang ditimbulkan, kelihatannya tidak cuma sekali itu saya memakai rok. Sebetulnya koleksi rok saya lumayan banyak, hanya saja tidak pernah pede memakainya. ini pengaruh dari indoktrinasi sepupu-sepupu saya sejak kecil. I have big legs.

Tapi lantas saya berpikir ulang. Eleanor Roosevelt bilang ,"Tidak ada seorangpun bisa menyakitimu, kecuali kamu yang menginginkannya". Lalu, saya juga bilang,"You are what you think. I am what I think". Kalau saya terus membawa olok-olok sepupu saya di kepala, sampai kapanpun saya tak akan pernah melakukan perubahan. Jadi, saya putuskan untuk mengabaikan suara-suara itu. And see what I am now, look good in skirts.

Kalau begini, bisa keterusan nih, pakai rok terus di kantor!