Akhirnya aku turun dari menara gading itu…
Friday, June 2nd, 2006
Puisi pertama yang kukirimkan padanya…
Parted
By: Sigfried Sasssoon
Sleepless I listen to the surge and drone
And drifting roar of the town’s undertone
Untill through quiet falling rain I hearthe bells
Tolling and chiming their brief tune that tells
Day’s midnight end, and from the day that’s over
No flashes of delight I can recover
………..
And I, in my lonelines longing for you
I’m alive… only that I may find you at the end…
Penggalan surat pertama yang kukirim padanya….
Baru saja aku membaca email-email yang permah kau kirimkan padaku. Mengenangmu kembali, rasanya seperti berjalan pulang. seperti menemukan kepingan puzzle yang telah lama hilang. No place like, nobody like you…
Bagaimana kabarmu sekarang? Senang rasanya apabila mendengar kamu baik-baik saja. Dengan begitu aku masih bisa percaya pada Tuhan, karena aku meminta-Nya untuk selalu menjagamu.
Entah bagaimana reaksimu begitu membaca ini. setidaknya aku berusaha datang untuk sekedar menyapa. Tetaplah kau, mendewasa dan bijaksana. You’re alwaysgood in everything at you!
PS: Kau percaya dengan hal-hal superstitious? Seringnya aku tidak. Tapi aku pernah made a wish upon a shooting star to get close to you.
Karena sekarang aku dan dia dipertemukan kembali, atau mungkin lebih tepat kalau mempertemukan diri ya? Aku sudah menyiapkan apa yang nantinya aku katakan padanya…
Selama ini aku berada di menara gading, yang kita berdua ciptakan untukku.
Aku tahu, bukan cuma aku yang resah karena keadaan ini. Kau juga.
Sekarang aku turun, berdiri di hadapanmu..
Begitu mudah untuk disentuh. Sentuh aku sekarang…
Besok mungkin kau akan mati, atau aku. Atau barangkali kita berdua. Dan aku tidak ingin merasakan penyesalan yang sama seperti yang kurasakan kemarin. Aku ingin mengatakan ini.
Aku mencintaimu, dan itu manusiawi. Bukan berarti kita harus berjalan bersama. Karena cinta tak butuh tali. Aku akan membiarkanmu terbang. Dan pada saatnya nanti, jika kau ingin berlabuh, aku akan selalu ada. Menunggumu, menantikan ceritamu tentang angkasa.
Seorang kawan yang kebetulan harus menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa kata-kata ini kuucapkan berulang kali di depannya, dalam setiap sesi curhat, bertanya,"Darimana dapat istilah ‘menara gading’?"
Aku menjawab sekenanya, TheDa Vinci Code, kata yang diucapkan oleh guru, Prof Teabing kepada Robert Langdon. Tapi tidak, sebelum aku membaca novel Brown, aku sudah sering menGgunakan ‘menara gading’ ini.
Nah, masalahnya sekarang, apakah aku benar-benar mempunyai keberanian untuk mengatakan itu semua, ketika aku sudah di hadapannya? Mengingat selama ini, dia selalu membuat aku speechless. Cuma dia, dan aku tidak terkejut karenanya….