Pindahan
March 14th, 2008 by kennisaSudah lama, tapi baru sempat meninggalkan pesan.
Kennisa sudah selesai membangun rumah baru nih, plus perabot-perabotnya. Dan sekarang, cerita rumah baru masih terus mengalir…
Yukk, mampir ke sini!
Sudah lama, tapi baru sempat meninggalkan pesan.
Kennisa sudah selesai membangun rumah baru nih, plus perabot-perabotnya. Dan sekarang, cerita rumah baru masih terus mengalir…
Yukk, mampir ke sini!
Sudah lama, tapi baru sempat meninggalkan pesan.
Kennisa sudah selesai membangun rumah baru nih, plus perabot-perabotnya. Dan sekarang, cerita rumah baru masih terus mengalir…
I feel like a little princess.
Semalam, seseorang yang sangaaaat spesial, memanggil saya dengan sebutan itu. Meskipun, katanya barusan, itulah cara dia memanggil perempuan (*kecewa sedikit* berarti nggak ke saya aja dong!), tapi saya tetep seneng. Pembicaraan sebelumnya agak kurang menyenangkan. Mungkin karena saya PMS, jadi lebih gampang uring-uringan. Tapi panggilan little princess yang diucapkan dalam tempo dan irama *hayah* yang pas, sanggup membuat hati saya meleleh, lumer.
Pada dasarnya saya suka dipuji dengan cara-cara lain. Misalnya, saya menandai seorang customer di tempat saya bekerja sebagai sosok pria dengan sense of humor tinggi, dan berselera. Ketika saya memberi referensi kepadanya (dengan gaya flirting saya seperti biasa), dia memuji saya. "Delapan puluh dibagi dua kali tiga berapa, mbak?" Oh well, dia tidak bilang saya jenius, tapi dia mengatakan saya jenius secara tersirat. FYI, jenius adalah kata yang sering digunakan olehnya. Seperti ketika saya salah memberikan informasi, dan dia mengoreksi, setelahnya dia akan berkata "Look who’s genius now?" Ah ya, saya suka sekali pada pemuda berkacamata itu. Cowok humoris memang nggak pernah basi.
Oh ya, kembali lagi ke ‘little princess’, untuk Anda, pria yang mungkin ingin meluluhkan hati pasangan Anda, sebutan itu rasanya layak untuk dimasukkan ke kamus Anda. Percaya atau tidak, seharian ini saya bakal tersenyum-senyum sendiri mengingatnya.
Coba bandingkan, appearance kita saat ini dengan appearance manusia-manusia dari abad pertengahan. Wanitanya memakai rok dengan kerangka kandang burung di dalamnya, sementara si pria memanjangkan rambut di samping telinga dan menggelungnya jadi tiga atau empat. Oh, saya masih ingat, dulu ketika SMP saya suka sekali nonton filn gebuk-gebukan Hong Kong dan melihat bahwa hakim-hakim di sana memakai wig berupa gelungan-gelungan rambut semacam itu. Menggelikan? Jelas!
Nggak usah jauh-jauh lah, tampilan remaja a la kita, dengan a la oom dan tante kita di tahun 80an lalu. Beda banget kan? Mungkin kalau melihat White Shoes and The Couple Company, mereka berasa nostalgia ya? Sekaligus bercermin
Dan di tahun 80an, tampilan semacam itu sudah sangat up to date buat mereka.
Things change. Ini adalah kalimat yang saya garis bawahi dari film Kundun-nya Martin Scorcese. Dunia terus berputar dan memaksa penghuninya berubah. Bentuk manusia yang terus menerus beradaptasi dengan lingkungan. Kebayang nggak sih, jaman dulu katanya tinggi manusia bisa mencapai lima meter? (There you go, Darwin!).
Tren juga terus datang dan pergi. Bukan hanya soal fashion. Acara televisi (dan radio of course), aksesoris, interior rumah, gadget, tempat makan sampai bahasa. Lucu kan, kalau di pertengahan 2007 ini kita masih mendengar istilah asoy, atau coy? Atau panggilan ‘maan’. "nggak gitu dong, maan!" Ouch, that’s definitely OUT-OF-DATE. Knock, knock, from which century are you?
And speaking about how-to-be-up-to-date-in-language, memang kita harus membuka mata dan telinga lebar-lebar. Pasalnya tidak ada aturan tertulis kapan era yang dimiliki satu kata akan berakhir. Sebuah kata yang akhirnya menjadi tren dan seolah menjelma sebagai jargon hampir semua orang, masuk ke ruang pergaulan tanpa permisi, pun pergi tanpa pamitan. Dan pernahkah terlintas di pikiran Anda, siapa sih sosok di balik penciptaan kata yang ear catchy, yang tanpa publicist hebat sekalipun, selalu diingat dan digunakan orang. Rasanya kalau nggak ngomong begitu, kurang keren.
Tayangan televisi Extravaganza adalah salah satu yang menurut saya kerap menciptakan istilah-istilah baru nan ajaib yang akhirnya menjadi jargon sejuta umat. Adik saya adalah penonton sejati Extravaganza yang kalau nggak terpaksa sekali nggak akan absen. Jadi dia kerap menjadi informan saya untuk istilah-istilah nggak-penting-penting-amat-tapi-penting-juga tersebut.
Suatu hari seorang teman bertanya sama saya, "siapa sih yang menciptakan kata ’secara’ sebagai bahasa slang? Secara sekarang kata itu digunakan secara massal". Coba perhatikan kalimat kedua. Ada dua secara yang saya cetak tebal. Secara kedua tentu saja sudah lazim kita temui di pelajaran bahasa Indonesia atau ketika berada dalam sebuah presentasi. Sementara secara yang pertama, adalah hasil penemuan sosok jenius tak dikenal. Pada mulanya, telinga saya agak geli mendengarnya. Tapi karena terlalu banyak orang yang menggunakan dan kata itu menjadi familiar, maka serupa doktrin yang tidak saya sadari, saya mulai menggunakannya.
"Kennisa, kalau ditelpon, suara kamu bagus banget" (*dongkol mode on* berarti aslinya enggak?)
"Ya, iyalah. Secara penyiar…"
Nah, bagaimana? Saya sudah bisa masuk ke Kursus Secara level advance?
Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, istilah gaul terus berkembang. Jadi sebagai saran saja, sebaiknya kita menyediakan alat tulis dan penghapus, sekedar untuk berjaga-jaga menyambut dan melepas istilah-istilah yang datang dan pergi dari kamus istilah kita. Aduh boo, cape deh…:)
‘yuk, ke kêrfor?’ ajak seorang teman.
Saya mengernyit.
‘belanja!’ lanjutnya sambil mengangsurkan brosur Carrefour.
‘Oh, karfur’ kata saya.
Karena dari Perancis, Carrefour tidak dibaca a la Inggris seperti yang dilafalkan teman saya tadi.
Anda barangkali juga pernah mengalami kejadian seperti saya. Terjadi missunderstanding kecil hanya karena pelafalan yang berbeda. Bagi saya, ini adalah problem serius. Penyebutan nama yang salah tidak hanya akan menyebabkan missunderstanding, tapi juga akan membuat orang lain meng-under estimate kita. Saya contohnya. Saya pernah berbicara dengan teman yang saya pandang high, dari segi kemampuan maupun pergaulannya. Tapi begitu dia menyebut Versace dengan ‘versas’, saya langsung ilfil.
Penyebutan nama yang tepat akan menunjukkan bahwa kita peduli. Bahwa kita mengerti. Bahwa kita well-educated person. Dan penyebutan nama atau label asing yang salah akan membuat kita terlihat bodoh. Uneducated. Meskipun impresi saya akan uneducated di sini tidak sama dengan uneducatednya orang latah.
Oke, barangkali sulit melafalkan label-label asing yang tidak semuanya dari Inggris tersebut. Tapi kalau seseorang mempunyai cukup uang untuk membeli couture dari Gucci atau perhiasan dari Van Cleef and Arpels, tentu saja dia memiliki uang lebih dari cukup untuk sekedar kursus bahasa Perancis atau Itali. At least, beli kamus lah, yang ada cara membacanya. Atau kalau enggan bersusah payah, dihapal kan juga bisa. Paling tidak, ini adalah usaha untukmengurangi rasa malu.
Nggak enak didengar kan (di arisan misalnya), ibu-ibu lagi pamer tas baru. ‘Lihat ni, luis viton, limited edition loh, jeung’.
Kalau nggak mau malu, Silahkan membeli produk-produk keluaran Itali, karena cara membacanya sama dengan tulisannya. Prada, Armani, Ferragamo. Atau label Spanyol seperti Massimo Duti. Selalu lebih sulit bahasa Perancis. Karena antara tulisan dan pengucapan berbalik 180 derajat. Yves Saint Laurent dan Chanel, tidak bisa dibaca sama sesuai dengan yang saya tulis. Ah, dan kadang-kadang ada perkecualian. Huruf terakhir dalam bahasa Perancis biasanya tidak dibaca. Tapi label yang memajang favorit saya Gemma Ward sebagai modelnya, Hermes, tetap dibaca dengan akhiran ’s’. Jadi, tidak ada salahnya kan mulai menghapal dari sekarang? Siapa tau, nanti saya mendapat suami kaya raya yang mengajak liburan seminggu sekali dengan lokasi terdekat Orchad Road, hehehe….
Saya lahir antara tanggal 31 Juli dan 1 Agustus, kata orang tua saya, waktu itu sudah midnite. Tapi, tanggal yang terakhir yang saya sebutlah yang tercetak di semua dokumen kehidupan saya. Dan seandainya kedua tanggal itu preferable buat saya, saya juga akan tetap lebih memilih yang terakhir. Ada banyak alasan mengapa. Angka 1 bagi saya adalah angka yang powerful. Ia menjadi awal dari segalanya (jika kita menafikan angka 0 yang fenomenal, yang bagi saya adalah simbol ketiadaan. Betapapun banyak yang kita punya, ketika berhadapan dengan nol, they’re gonna be nothing).
Dan ketika saya iseng mengikuti satu kuis tentang tanggal lahir saya, dan melihat hasilnya, jelaslah sudah bahwa saya memang seharusnya lahir beberapa menit setelah midnite. Mungkin sesuai dengan sifat tak sabaran saya, saya tak mau terlalu menunggu lama untuk menghirup udara di dunia kala itu, jadi saya meluncur lebih cepat dari yang Tuhan mau.
Ini dia hasilnya:
You are a natural born leader, even if those leadership talents haven’t been developed yet.
You have the power and self confidence to succeed in life, and your power grows daily.
Besides power, you also have a great deal of creativity that enables you to innovate instead of fail.
You are a visionary, seeing the big picture instead of all of the trivial little details.
Your strength: Your supreme genius
Your weakness: Your inappropriate sensitivity
Your power color: Gold
Your power symbol: Star
Your power month: January
Saya harus menegaskan di awal posting ini bahwa saya sangat suka flirting. Dan belakangan baru saya rasakan, kesukaan saya akan flirting meruipakan bawaan lahir. Bukan genetis tentu saja, karena saya tak pernah melihat ibu atau bapak saya melakukan hal yang sama. Melainkan bakat. Baru beberapa detik lalu saya membahas hal ini dengan salah seorang rekan kerja di sela-sela obrolan pagi sambil menikmati kopi, dan dia menganjurkan saya untuk menulisnya, agar menjadi semacam pelajaran bagi mereka yang ingin mulai melakukan pendekatan.
Saya mengatakan tidak, meskipun toh saya tulis juga akhirnya. Begini, kalau kita bicara tentang korelasi antara bakat dan keberhasilan, pertama kita harus menciptakan kategori. Menulis juga merupakan bakat. Tetapi kita hanya membutuhkan kurang dari sepuluh persen saja untuk memenuhi seratus persen keberhasilan menciptakan sebuah tulisan. Jelas, bakat memiliki peran relatif sedikit di sini. Yang mendominasi keberhasilan menulis sebenarnya adalah usaha dan keengganan untuk menyerah.
Lain dengan flirting. Kita tidak terlalu membutuhkan usaha, karena (terutama bagi saya), flirting adalah sebuah tindakan spontan. Begitu kita berhadapan dengan seseorang, secara otomatis tubuh kita akan membentuk gesture tertentu dan kata-kata seolah tercetak begitu saja di otak.
Oke, sekarang saya bekerja di tempat yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang. Wajah berhadapan dengan wajah, bukan sekedar impresi yang tercipta di otak melalui suara. Dan kerapkali saya menemukan sosok-sosok menarik di tempat kerja baru saya. Barangkali inilah yang membuat saya akhirnya sadar, bahwa kemampuan (plus keinginan) flirting merupakan bawaan lahir. Karena di antara rekan-rekan kerja saya yang lain, sayalah yang paling genit. Selalu ada intensitas dari apa yang saya ucapkan, atau gerak yang saya lakukan.
Saya contohkan, ketika saya menjumpai kembali wajah seseorang yang pernah bertukar obrolan seru tentang film, saya spontan berkata ‘Hei, I recognize your face. How’re you doing?’ Atau kali lain, ketika saya bertemu orang yang berbeda yang saya kenali wajah juga kebiasaannya, spontan saya menyapa ‘Hello Belluci’s number one fan…’ Dan senangnya, pria-pria jaman sekarang tidak lagi konservatif dengan menganggap hal ini sebagai compliment biasa. Artinya mereka tidak lantas kege-eran. Dan Anda tentu bisa menebak, interaksi kami selanjutnya berlangsung lebih seru lagi.
Orang yang suka flirting seperti saya, kadang melakukan penyangkalan, bahwa itu dilakukan sekedar untuk beramah tamah. Tapi saya bilang, ramah tamah hanya berhenti pada senyum dan sapaan standar ‘apa kabar?’. Pun, ramah tamah tidak disertai dengan gesture. Please, jangan berpikir terlalu jauh dengan membayangkan saya bergerak terlalu vulgar dengan menyorongkan dada saya misalnya, definitely not like that! Saya hanya membuat posisi saya lebih terbuka sehingga menunjukkan pada mereka, pria-pria itu, bahwa saya siap untuk obrolan lebih lanjut.
Dan jangan salah sangka juga, flirting adalah kata lain dari approach kecil-kecilan. Bukan berarti kita meniatkan diri untuk berhubungan lebih. Nope! I have one already in my heart, and two would make it too much. Flirting adalah flirting, dan salah atau benarnya tak bisa saya katakan. Siapalah saya? Saya tidak dalam kapasitas untuk menilai sesuatu.
Postingan kali ini bukan saya maksudkan untuk edukasi.Tapi untuk Anda yang niat ingin memulai (karena barangkali sekarang sudah menemukan seseorang yang layak untuk diflirtingin), itu juga bukan hal yang mustahil. Meskipun di awal saya bilang bahwa flirting adalah bakat, tapi bisa banget dipelajari. Baca buku, novel, chicklit, tonton banyak film, buka mata dan lihat kejadian sekitar, and see how people behaves. Dari sanalah Anda akan mendapatkan banyak ide. Tapi saya tetap berpesan satu hal yang terdengar klise, mudah diucapkan, namun butuh perjuangan untuk melakukan: BE YOURSELF!
Tadi siang, saya habis menonton drama lama ‘Something’s Gotta Give’. Saya tak pernah begitu suka dengan Jack Nicholson, entah, karena wajahnya nakal, bukan masuk golongan tipe saya, atau karena perannya selalu nakal. Wah, kalau alasan yang terakhir, berarti aktingnya berhasil mengecoh saya dong.
Yang ingin saya tulis sebenarnya bukanlah ketidaksukaan saya pada Jack. Tapi bagaimana film ini menggabarkan perempuan yang sebenarnya. How does women react in this kind of situation. Nancy Meyers menuliskannya dengan tepat, mengarahkannya dengan tepat, dan Diane Keaton menangkap arahan itu dengan sangat tepat.
Perempuan akan 180 derajat berubah ketika jatuh cinta. Dan perasaan berbunga-bunga karena jatuh cinta itu akan 180 derajat berbalik menjadi patah hati karena melihat satu kejadian, atau mendengar satu pernyataan. Dan reaksi setelahnya, kami perempuan, akan berusaha untuk membuat penyangkalan bahwa kami telah jatuh cinta dan disakiti. Penyangkalan terhadap diri sendiri. Akan ada perang batin yang hebat di dalamnya. Betapapun kami berusaha mendongakkan dagu ketika berjalan, pada saat sendirian, kami tetap akan menangis menggerung. Di hadapan orang yang tak begitu dikenal, kami akan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Tapi dengan teman dekat, tanpa ditanya pun cerita akan meluncur dan airmata mengucur, dengan sendirinya.
Yah, ini hanya pengamatan yang saya lakukan pada perempuan-perempuan di sekitar saya. Dan data ini tidak akurat, karena kadang saya juga menemukan perempuan yang tidak bersikap sama. Tapi terus terang, jarang sekali.
Yang ingin saya lakukan ketika menonton film itu adalah, mengajak di hani menontonnya juga. Lantas di kepala saya, ada tanya jawab imajiner.
Saya : See? That’s us. Women.
Si Hani : Really? Including you, Baby?
Saya menggeleng.
Saya : No, Hon. Not including me. Especially me
Hm…terus kenapa kali ini judulnya ‘I love ya’? Ini adalah satu quotation dari Something’s Gotta Give. I don’t know if it ends in a ‘ya’ if it’s a true ‘I love you.’
Kalau ditanya tentang rumah, rumah dalam artian harfiah, pikiran saya jadi gamang. Hingga sekarang, yang bisa saya sebut rumah adalah tempat di mana kedua orangtua saya tinggal. Yang saya singgahi sebulan sekali, atau lebih ketika pikiran penat. Dan rumah orang tua saya juga memenuhi syarat sebagai rumah dalam arti kiasan. Menghilangkan setiap lara, selalu terbuka bagaimanapun kondisi saya, dan dimanapun saya, selalu menimbulkan rasa kangen untuk ‘pulang’.
Tapi saya sadar, saya tak bisa terus menerus menikmati kenyamanan tersebut. Orang tua yang begitu melindungi,yang sampai saya sudah segedhe ini, masih ‘dioyak-oyak’ ke dokter ketika tahu saya ‘tepar’.
Saya harus mulai membangun ‘rumah’ saya sendiri. Yang akan memanggil-manggil saya untuk pulang. Yang membuat saya nyaman, meskipun kelak barangkali akan saya tinggali sendiri. Deskripsinya? Hm… agak sulit.
Lokasi terbaik mungkin pantai. Karena seberapa menyengat udaranya atau betapa besar bahaya tsunami yang mengancam, rasa cinta saya pada elemen-elemen pantai tidak pernah surut. Air, pasir, biru, buih putih. Tapi betapapun cinta saya dengan pantai, rasanya tak tahan kalau saya terus menerus tinggal di lingkungan itu. Di sekitar pantai, kita tak bisa menemukan Gramedia atau Starbucks, kan? Yah, kalau saya menetapkan hati untuk tinggal di pantai, saya juga harus menetapkan diri untuk terisolasi dari peradaban. Dan belum lama ini, saya mengikuti kuis yang menunjukkan kota yang tepat untuk saya tinggali setelah menjawab beberapa pertanyaan, and voila, ternyata New York City adalah the city where I should live in. Dan tak ada pantai di New York City kan? Oh well, sebenarnya ada. Kalau Anda tinggal di Manhattan, Anda akan menjumpai New Jersey di seberang pantai. Tapi pantainya Manhattan berbeda dengan yang ada dalam kepala saya, setiap kali kata ‘pantai’ melintas.
Cukup tentang lokasi. Kalau tidak terlalu banyak polusi, masih cukup hijau - saya bilang cukup, karena mencari yang benar-benar hijau di jaman sekarang rasanya seperti mencari McD di pedalaman Kenya - dan ada ruang bagi saya berjalan-jalan sore bersama anak atau anjing, rasanya sudah cukup.
Sekarang tentang deskripsi rumah itu sendiri. Dari kecil, orangtua saya memberi contoh pada anak-anaknya untuk mencintai kehidupan. Menanam pohon, memelihara binatang. Saya tumbuh besar dengan menikmati buah-buahan dari kebun sendiri. Jambu bangkok, Pepaya, mangga yang jumlahnya tak terhitung, sirsak, sirkaya (ada yang tahu buah ini?), pisang, anggur, cermai, bahkan kelapa. Dan tampaknya semua binatang peliharaan pernah ada di rumah saya. Ayam, kambing, bebek, angsa, ayam kalkun, kelinci, kucing, burung, burung hantu, ikan (dalam kolam maupun akuarium), hingga lebah tang menyuplai madu asli buat saya setiap bulan. Yang belum barangkali cuma anjing. Karena meskipun sangat ingin, kata banyak orang liurnya tak boleh disentuh. Padahal saya pernah merasakan wajah saya dijilat Negra, anjingnya Shaggydog, dan rasanya enak benar. Meski setelah itu saya harus mandi tujuh kali, dengan debu pula!
Nah, saya ingin rumah masa depan saya tidak jauh berbeda dengan rumah masa lalu saya. Banyak tanaman, dan ada binatang untuk dirawat. Saya pernah membaca satu artikel yang mengatakan bahwa cuddling bisa membunuh stress. Dan tanaman? Apapun wujudnya, entah pohon ataupun semak-semak - yang enak dilihat tentunya - ataupun bunga-bungaan, yang pasti bisa menyuplai oksigen bagi saya dan orang-orang yang tinggal di rumah saya. Barangkali tidak sehebat kalau saya bergabung dengan WWF, tapi setidaknya saya telah melakukan satu hal. Satu alasan lagi. Orangtua saya telah mengajarkan hal mulia yang akan saya ajarkan pada anak-anak saya nantinya. Yaitu mencintai makhluk hidup lain. Berapapun banyak kucing yang kami punya dalam satu waktu, bapak saya tidak akan pernah tega membuangnya. Entah itu yang sakit-sakitan, nakal, suka buang air sembarang tempat, semua mendapat perlakuan sama.
Oke, kembali ke rumah idaman saya. Mari kita tengok bagian dalamnya. Hal pertama yang menjadi prioritas saya dalam mambangun rumah adalah kamar mandi. Sampai saat ini, kamar mandi adalah tempat bagi saya untuk membersihkan diri, dalam arti harfiah maupun kiasan. Stress, membutuhkan inspirasi, ingin ber-soliloqui, atau mau nyanyi seenak jidat, kamar mandi adalah tempat yang selalu tepat. Maka saya berniat membangun kamar mandi saya selayak mungkin. Dan kalau Anda pernah membaca blog saya tentang kolong tempat tidur, Anda pasti tahu yang saya maksud. Hal-hal tersembunyi justru menunjukkan siapa kita sebenarnya.
Ruangan-ruangan lain belum sempat terpikir. Tapi dari dulu, dalam imajinasi saya, rumah selalu memiliki pagar kayu bercat putih seperti yang selalu ada dalam drama keluarga Amerika. Dan ada trotoar di depan juga jalan raya yang tidak dilewati banyak kendaraan, agar anak saya bebas bersepeda atau main skateboard.
Hal-hal yang sudah saya tulis bisa sekali berubah, seiring waktu. Yang terpenting dulu, sebenarnya adalah mencari ’seseorang’ yang akan membuat saya selalu ingin ‘pulang’. Kalau ini, berubahpun rasanya akan membutuhkan proses yang sangat panjang. Ada yang berminat? Anyone?
Maukah Anda, ketika segala sesuatu di dunia sama? Kita memiliki pemikiran yang sama, gaya yang sama, cara bicara yang sama, selera yang sama, warna kulit yang sama, tingkat kesejahteraan yang sama, panjang usia yang sama.
Tidak akan pernah ada debat dan selisih pendapat. Dan tidak ada kata ‘damai’, karena kita tidak pernah mengenal istilah perang. Dualisme terhapus dari eksistensinya.
Ah, bagi saya, dunia terlalu berat untuk berada di kepala satu orang saja!